"Enggak tentu. Kadang dua orang, kadang tiga orang. Kalau lagi ramai bisa empat orang," tutur Linda menggunakan bahasa isyarat.
Menurut keluarga Linda, keputusan mengajak teman-teman sesama penyandang disabilitas bukan tanpa alasan.
Linda melihat masih banyak rekannya yang kesulitan memperoleh pekerjaan.
Keterbatasan pendengaran kerap membuat mereka sulit diterima di dunia kerja.
Karena itulah, selama masih ada pekerjaan yang bisa dibagi, Linda memilih membuka ruang bagi mereka.
"Kasihan juga, karena banyak yang enggak kerja. Jadi sekalian buat mereka ada penghasilan," ujar keponakannya menyampaikan pesan Linda.
Bagi Linda, penghasilan yang diperoleh mungkin tidak besar.
Namun setidaknya ada pemasukan yang bisa dibawa pulang.
Ia sendiri memiliki tiga anak yang harua dihidupi.
Penghasilan Dibagi Bersama
Usaha itu juga menerapkan sistem bagi hasil.
Misalnya, jika motor yang dicuci dikenai tarif Rp20 ribu.
Dari jumlah tersebut, Rp11 ribu menjadi bagian Linda sebagai pemilik usaha untuk menutup biaya operasional.
Sementara Rp9 ribu diberikan kepada pekerja yang mencuci motor.
"Ibunya ambil Rp11 ribu, temannya Rp9 ribu," kata anak Linda menjelaskan.
Menurut mereka, sistem tersebut sengaja dipertahankan agar semua orang yang datang bekerja tetap memperoleh penghasilan.
Meski demikian, pendapatan usaha tidak pernah pasti.
"Tapi Alhamdulillah cukup untuk anak-anak makan dan sekolah," tutur Linda.
Jumlah pelanggan sangat bergantung pada cuaca.
Selain itu, usaha cuci motor di sekitar Jalan Suryanata juga semakin banyak.
Akibatnya, dalam kondisi sepi mereka hanya mencuci dua hingga tiga motor dalam sehari.
"Kalau sepi paling dua atau tiga motor saja. Tergantung cuaca juga, sekarang usaha cuci motor sudah banyak," ujarnya.
Tempat Berkumpul Komunitas Tunarungu
Selain menjadi tempat bekerja, usaha Linda juga menjadi tempat berkumpul bagi puluhan teman-teman penyandang tunarungu.
Linda bercerita, dulu teman-teman sesama penyandang tunarungu rutin berkumpul di dua lokasi, yakni di usaha cuci motor miliknya di Jalan Suryanata dan sebuah tempat cuci motor lain di kawasan Jalan Kebaktian.
Namun pencucian motor tuna rungu di Jalan Kebaktian tersebut kini sudah tidak ada.
Sekarang, mereka lebih sering bertemu di tempat usaha Linda.
Sesekali mereka mengadakan olahraga bersama setiap Minggu pagi, terutama bagi para perempuan.
"Yang perempuannya sekarang seminggu sekali olahraga sama-sama," ujar keponakan Linda menerjemahkan bahasa isyaratnya.
"Kalau malam mereka kadang kumpul juga di sini," sambungnya.
Kadang mereka juga sekadar makan bersama atau berbincang untuk melepas rindu.
Menurut keponakan Linda, sedikitnya ada sekitar 20 hingga 25 penyandang tunarungu yang saling mengenal dalam lingkaran pertemanan mereka.
Tag



