ARUSBAWAH.CO - "Ketika aku jadi wartawan, aku hanya menulis saja. Ketika jadi anggota DPRD, aspirasi itu bisa langsung aku bawa."
Suasana warung kopi di pinggiran Balikpapan sore itu membawa Sofyan Jufri kembali mengingat masa-masa ketika ia menyusuri jalanan sebagai seorang wartawan.
Jauh sebelum duduk di kursi DPRD Balikpapan, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengaku pernah mengandalkan pena untuk menyuarakan persoalan masyarakat.
Kini, kata dia, perjuangan yang sama ditempuh melalui ruang parlemen.
Kalimat itu meluncur pelan dari mulut Sofyan Jufri saat berbincang santai bersama redaksi Arusbawah.co di sebuah warung kopi di Balikpapan pada, Rabu (15/7/2026) sore lalu.
Tidak ada kesan sedang berpidato.
Ia lebih banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya, mulai dari menjadi aktivis, wartawan lapangan, Ketua RT, hingga akhirnya dipercaya masyarakat duduk sebagai anggota DPRD Balikpapan periode 2024-2029.
Sofyan Jufri mengaku bukan politisi yang lahir dari keluarga pejabat atau lingkaran elite.
Sebelum dikenal sebagai anggota legislatif, ia justru lebih dulu dikenal sebagai wartawan yang bertugas di Kaltim.
Karier jurnalistiknya dimulai pada 2012.
Saat itu ia bergabung di BTV dan cukup lama menjalankan tugas peliputan di Samarinda.
Hari-harinya dihabiskan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, mengejar berita, menemui narasumber, hingga mendengar langsung keluhan masyarakat.
Dari profesi itulah ia mengaku belajar satu hal penting, yakni mendengar.
Namun seiring waktu, muncul pertanyaan dalam dirinya.
Apakah cukup hanya menulis persoalan yang dihadapi masyarakat tanpa bisa ikut menyelesaikannya?
Pertanyaan itu yang kemudian perlahan mengubah arah hidupnya.
"Perjuangannya sama, cuma beda peran dan beda tempat saja," tutur Sofyan Jufri.
Menurut dia, wartawan dan anggota DPRD sama-sama memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Bedanya, wartawan menyampaikan persoalan melalui berita, sedangkan anggota DPRD memiliki ruang untuk membawa langsung aspirasi itu kepada pemerintah.
"Kalau saya di gedung parlemen, kawan-kawan media perjuangannya lewat pena. Sama saja sebenarnya," ujarnya.
Meski begitu, ia tidak menutupi bahwa ketika sudah masuk ke dalam dunia politik, tantangannya berbeda.
Saat menjadi wartawan, kata Sofyan Jufri, ia hanya berhadapan dengan kebijakan redaksi dan kepentingan perusahaan media.
Sementara setelah menjadi anggota DPRD, ia harus menghadapi dinamika politik yang jauh lebih rumit.
"Ada kompromi politik, ada lobi-lobi politik, ada bargaining politik. Itu memang kenyataannya," katanya.
Meski begitu, Sofyan Jufri mengaku tidak pernah menyesali keputusan meninggalkan dunia jurnalistik.
Justru pengalaman menjadi wartawan menjadi bekal terbesar ketika kini duduk di Komisi IV DPRD Balikpapan yang membidangi kesejahteraan rakyat, pendidikan, kesehatan hingga ketenagakerjaan.
Warung Kopi Menjadi Tempat Sofyan Jufri Mendengar Aspirasi Warga
Ia mengaku kebiasaan mendengar cerita masyarakat tidak pernah hilang.
Tag



