ARUSBAWAH.CO - Pembangunan infrastruktur dasar di sejumlah kampung pedalaman Kabupaten Berau dinilai masih membutuhkan perhatian serius.
Akses jalan, air bersih, jaringan telekomunikasi, hingga listrik di sejumlah wilayah disebut belum sepenuhnya memadai sehingga masih menyulitkan aktivitas dan pelayanan dasar masyarakat.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur dasar di kampung-kampung terpencil masih membutuhkan dukungan anggaran yang besar.
Karena itu, ia berharap skema Bantuan Keuangan (Bankeu) dari Pemprov Kaltim dapat kembali dibuka untuk anggota DPRD sehingga aspirasi masyarakat di daerah dapat lebih cepat ditindaklanjuti.
Diketahui, Pemprov Kaltim berencana menghapus skema Bankeu yang memuat dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD untuk kabupaten/kota pada tahun 2027.
"Kami masih butuh anggaran untuk pembangunan infrastruktur, khususnya di kampung-kampung. Karena itu kami masih sangat menginginkan Bankeu diberikan juga kepada kami anggota dewan supaya kami bisa membantu masyarakat melalui bantuan keuangan di kampung-kampung," kata anggota DPRD Kaltim Syarifatul Sya'diah kepada media ini, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak fasilitas dasar yang belum terpenuhi.
Mulai dari penyediaan air bersih, jaringan listrik, hingga akses jalan yang layak masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
"Fasilitasnya masih banyak yang belum tercukupi. Khususnya air minum dan sebagainya itu belum semuanya," ujarnya.
Ia mengakui kondisi kelistrikan di Berau mulai mengalami perbaikan karena adanya program dari pemerintah pusat.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah kampung yang belum menikmati layanan listrik secara optimal.
"Kalau PLN sudah mulai berproses walaupun masih ada beberapa kampung yang belum. Karena itu dari pusat. Maksud saya perlu juga sentuhan dari provinsi karena keterbatasan dana untuk bantuan keuangan di kampung-kampung terpencil," katanya.
Jalan Rusak, Ibu Hamil Kesulitan Menuju Rumah Sakit
Salah satu wilayah yang masih menjadi sorotan adalah kawasan pedalaman Kecamatan Kelay, khususnya Kampung Merabu.
Menurut Syarifatul, daerah tersebut memiliki potensi wisata yang besar karena menjadi pintu masuk menuju kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
Namun, akses menuju kampung itu hingga kini masih jauh dari memadai.
Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur tebal sehingga sulit dilalui kendaraan.
Kondisi tersebut tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi dan pariwisata, tetapi juga mengancam keselamatan warga.
Tag



