Di saat yang sama, Kaltim juga disebut masih menghadapi persoalan lingkungan yang belum terselesaikan.
Dalam materi pelatihan disebutkan terdapat antara 1.700 hingga lebih dari 2.700 lubang tambang yang belum direklamasi di Benua Etam.
Menurut Dicky, lubang-lubang bekas tambang itu tersebar di berbagai wilayah dan sebagian berada dekat kawasan permukiman warga.
Setidaknya, menurutnya, 51 orang meninggal dunia, sebagian besar anak-anak, akibat lubang tambang sejak 2011.
Belum lagi persoalan banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah, kerusakan lingkungan, hingga ancaman terhadap populasi Pesut Mahakam yang kini tersisa sekitar 60 hingga 66 ekor di alam liar.
Transisi Energi Berkeadilan Dinilai Jadi Kebutuhan Kaltim
Dicky menegaskan bahwa kondisi itulah menjadi alasan mengapa Kaltim perlu mulai mempersiapkan diri menghadapi transisi energi berkeadilan.
Terlebih, menurut dia, berbagai proyeksi menunjukkan permintaan batubara dunia akan terus menurun seiring meningkatnya komitmen negara-negara terhadap energi bersih.
Permintaan Batubara Dunia Diperkirakan Turun Lebih dari 70 Persen
Dalam materi pelatihan disebutkan, apabila seluruh negara menjalankan komitmen iklim masing-masing, permintaan batubara global diperkirakan turun 20 persen sebelum 2030 dan lebih dari 70 persen sebelum 2050 dibandingkan tingkat konsumsi pada 2021.
Karena itu, menurut Dicky, transformasi ekonomi menuju sektor yang lebih hijau tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan.
"Transisi yang adil menuju keberlanjutan harus memastikan tidak ada pihak yang tertinggal atau no one left behind," demikian salah satu poin yang disampaikan dalam pelatihan tersebut.
(wan)
Tag



