ARUSBAWAH.CO - Prof. Rudianto Amirta telah mendaftarkan diri sebagai bakal calon Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) periode 2026-2030 pada 12 Mei 2026 lalu.
Nama Rudianto Amirta menjadi salah satu dari empat kandidat yang masuk dalam bursa Pemilihan Rektor (Pilrek) Unmul.
Guru Besar Fakultas Kehutanan itu telah menyelesaikan proses pendaftaran dan menyerahkan berkas ke panitia penjaringan Pilrek Unmul 2026 beberapa waktu lalu.
Sosok Rudianto Amirta muncul dengan kombinasi pengalaman birokrasi kampus, jejaring internasional, rekam jejak riset, hingga keterlibatan langsung dalam isu energi terbarukan dan kehutanan di Indonesia.
Perjalanan Akademik Rudianto Amirta dari Unmul hingga Kyoto University
Prof. Dr. Rudianto Amirta lahir di Pemangkat, Kalimantan Barat, pada 25 Oktober 1972.
Karier akademiknya tumbuh dari Universitas Mulawarman sendiri.
Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana dan Magister Teknologi Hasil Hutan di Unmul sebelum melanjutkan studi doktoral di Kyoto University, Jepang.
Pada 2005, ia meraih gelar Doktor Applied Life Science dari Kyoto University.
Penelitiannya saat itu berfokus pada degradasi lignin menggunakan jamur white-rot, produksi asam ceriporic, hingga pengolahan kayu untuk fermentasi metana yang berkaitan dengan energi terbarukan.
Latar belakang itu yang kemudian membuat Rudianto sebagai salah satu akademisi Unmul yang bergerak di bidang biomassa dan energi alternatif.
Pernah Jadi Dekan Fahutan hingga Direktur KUI Unmul
Kariernya di lingkungan kampus juga terbilang panjang.
Ia pernah menjabat Direktur Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmul pada 2015-2016.
Sebelum itu, ia menjadi Ketua Program Unggulan Internasional Unmul pada 2012-2015.
Namun, namanya mulai dikenal di internal kampus ketika dipercaya menjadi Dekan Fakultas Kehutanan selama dua periode, yakni 2016-2020 dan 2020-2024.
Aktif di Forum Internasional dan Tim Pakar KLHK
Di luar Unmul, Rudianto Amirta juga sempat menjadi Asisten Profesor di Laboratory of Biomass Conversion, Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH), Kyoto University pada 2006-2008.
Ia juga pernah masuk dalam tim pakar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membantu pengembangan multiusaha kehutanan pada 2020-2023.
Tak hanya itu, Rudianto Amirta tercatat menjadi anggota delegasi Pemerintah Indonesia dalam forum internasional Conference of the Parties (COP) ke-25 UNFCCC di Madrid, Spanyol pada 2019 dan COP ke-27 di Sharm el-Sheikh, Mesir pada 2022.
Ia juga terlibat dalam Indonesia-Japan Forestry Investment Dialogue di Tokyo, Jepang pada 2022.
Produktif Meneliti Biomassa dan Energi Terbarukan
Dari sisi akademik, produktivitas riset Rudianto termasuk menonjol di lingkungan Unmul.
Berdasarkan data Scopus, ia memiliki h-index 12 dengan 49 artikel ilmiah internasional bereputasi dan lebih dari 477 sitasi.
Sementara di Google Scholar, ia memiliki h-index 20 dengan lebih dari 1.074 sitasi.
Bidang riset yang banyak ia geluti berkaitan dengan konversi biomassa, biokonversi lignin, teknologi pulp dan kertas, hingga energi terbarukan berbasis hasil hutan.
Riset terbaru yang ia kembangkan berkaitan dengan biomassa cepat tumbuh untuk bioenergi dan teknologi pirolisis berbagai jenis kayu tropis menjadi pellet energi serta arang premium.
Bangun Kolaborasi dengan Kampus Dunia
Aktivitas akademiknya juga tidak berhenti di laboratorium.
Ia aktif membangun kolaborasi internasional dengan sejumlah kampus dunia seperti Kyoto University, Kyoto Prefectural University, Mie University, Korea University, Chulalongkorn University, Naresuan University, University Putra Malaysia, Leiden University, Delft University of Technology hingga Erasmus University.
Kolaborasi itu diwujudkan melalui program pertukaran mahasiswa, penelitian bersama tingkat magister dan doktoral, hingga pengembangan jejaring internasional Unmul.
Dorong Pengembangan Energi Biomassa di Kaltim
Di Kaltim, Rudianto Amirta juga aktif mendorong pengembangan energi biomassa di Kabupaten Paser dan Berau.
Salah satu yang dikembangkan adalah riset pirolisis kayu dan cangkang kelapa sawit untuk energi alternatif serta pengembangan kompor kayu efisien menggunakan desain drum kiln dan industrial metal kiln.
Implementasi riset itu disebut tidak hanya menyasar kebutuhan energi terbarukan masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha arang komunal di tingkat desa.
Pendekatan yang dibangun Rudianto Amirta memadukan aspek teknologi dan sosial ekonomi masyarakat lokal.
Model itu dinilai sejalan dengan arah pengembangan ekonomi hijau yang belakangan mulai didorong di Kaltim.
Deretan Penghargaan Prof Rudianto Amirta
Sepanjang kariernya, Rudianto Amirta juga telah menerima sejumlah penghargaan.
Di antaranya Juara I Nasional lomba Sang Penemu LIPI-LPP TVRI Jakarta tahun 2011, Dosen Berprestasi Kalimantan Timur 2016, Peneliti Terbaik Universitas Mulawarman 2016, nominasi Penghargaan Energi Prakarsa Nasional 2017, hingga Satyalancana Karya Satya XX Tahun dari Presiden RI pada 2019.
Terbaru, ia menerima penghargaan sebagai Dosen Berprestasi Bidang Energi Terbarukan Universitas Mulawarman tahun 2024.
(wan)
- Rudianto Amirta Akui Cari Dukungan Politisi untuk Pilrek Unmul 2026, Singgung Cara Lama yang Dipakai Rektor Sebelumnya
- Target Indeks Ketahanan Pangan Kaltim 2027 Naik Jadi 82, tapi 107 Desa Masih Rawan Pangan
- Lima Bakal Calon Rektor Unmul Mulai Bertarung, Abdunnur Singgung Isu Dukungan Partai di Foto Rudianto
- Kaltim Siapkan 4 Proyek Infrastruktur Besar dalam Musrenbang 2027: dari Rumah Sakit hingga Jalan Tembus ke IKN




