Jika lolos sebagai tuan rumah, Samarinda berpeluang naik kelas sebagai kota penyelenggara event internasional.
Dampaknya bukan hanya pada sektor olahraga, tetapi juga ekonomi dan pariwisata.
Kehadiran tim, ofisial, dan suporter dari berbagai negara Asia Tenggara diperkirakan mampu mendongkrak okupansi hotel, restoran, serta sektor transportasi lokal.
Namun peluang besar ini juga membawa konsekuensi.
Jika gagal memenuhi standar, Samarinda bisa kembali tertinggal dalam perebutan event nasional maupun internasional, apalagi dengan persaingan dari Balikpapan yang dinilai lebih siap dari sisi infrastruktur stadion.
“Kami siap jika dipercaya, tapi tentu harus memenuhi semua syarat yang ditetapkan,” tegas Muslimin.
Saat ini proses masih berada di tahap verifikasi. Jika dinyatakan layak, Samarinda berpeluang menjadi pusat perhatian sepak bola Asia Tenggara pada 2026.
Jika tidak, kesempatan tersebut bisa beralih ke daerah lain yang dinilai lebih siap. (isa)




