Arus Publik

Rudianto Amirta Akui Cari Dukungan Politisi untuk Pilrek Unmul 2026, Singgung Cara Lama yang Dipakai Rektor Sebelumnya

Buka Suara Soal Tuduhan Cawe-cawe Politik di Pilrek Unmul 2026

Jumat, 15 Mei 2026 19:21

Ditemui di ruang kerjanya di Fakultas Kehutanan Unmul, bakal calon rektor, Rudianto Amirta menjelaskan ke redaksi soal isu tudingan cawe-cawe kementerian, Kamis (14/5/2026)/Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Bakal calon Rektor Universitas Mulawarman (Unmul), Prof. Rudianto Amirta, merespons terkait tudingan membawa politik praktis ke dalam kontestasi Pilrek Unmul periode 2026-2030.

Ditemui di ruang kerjanya di Fakultas Kehutanan Unmul, Kamis (14/5/2026), ia mengaku menemui sejumlah tokoh politik nasional dan daerah untuk meminta dukungan, mulai dari Ketua Komisi X DPR-RI Hetifah Sjaifudian hingga Wakil Ketua Komisi I DPR RI Budisatrio Djiwandono. 

Namun, ia menegaskan langkah itu bukan bentuk cawe-cawe, melainkan strategi biasa dalam perebutan kursi rektor.

Nama Rudianto belakangan ramai diperbincangkan di internal kampus usai beredar foto dirinya bersama Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Budisatrio Djiwandono. 

Foto itu memunculkan spekulasi adanya upaya lobi politik ke pusat untuk memengaruhi proses pemilihan rektor Unmul.

Eks Dekan Fakultas Kehutanan Unmul itu tak membantah dirinya aktif membangun komunikasi dengan sejumlah tokoh politik. 

Bahkan, ia secara terbuka mengaku mendatangi sejumlah legislator dan tokoh daerah untuk meminta restu dan dukungan.

“Saya tidak hanya ke satu anggota dewan meminta dukungan. Saya menghubungi Ibu Hetifah dari Komisi X DPR RI, saya menghubungi kader demokrat Irwan Pecho, kemudian Budisatrio Djiwandono. Saya juga sowan dan minta izin ke Sultan Kutai Kartanegara,” kata Rudianto.

Rudianto Sebut Praktik Cari Dukungan Politik Sudah Terjadi Sejak Pilrek Sebelumnya

Kata Rudianto, langkah mencari dukungan eksternal bukan sesuatu yang baru dalam kontestasi pemilihan rektor di Unmul.

Ia justru menyebut pola serupa juga dilakukan pada Pilrek Unmul empat tahun lalu.

“Pak Rektor melakukan itu empat tahun lalu. Beliau mendapatkan dukungan mutlak dari salah satu partai untuk mengalahkan calon lainnya. Jadi kalau sekarang diarahkan ke saya, itu lucu,” ujarnya.

Rudianto bahkan menyinggung adanya klaim dukungan elite nasional yang disebut pernah dimainkan kubu tertentu dalam proses Pilrek empat tahun lalu.

Ia menyebut nama Presiden RI Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo hingga Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad sebagai tokoh yang disebut-sebut pernah dikaitkan dengan dukungan politik pada Pilrek terdahulu.

“Waktu rekrutmen 81 anggota senat itu, saya dengar selalu disampaikan sudah dapat dukungan dari Bapak 01, Presiden Prabowo. Ada juga nama Pak Hashim dan Pak Dasco. Itu yang diyakinkan ke banyak orang,” katanya.

Suara Menteri 35 Persen Disebut Jadi Alasan Kandidat Bangun Komunikasi Politik

Ia menilai tudingan cawe-cawe yang diarahkan kepadanya terlalu berlebihan. 

Apalagi, menurutnya, semua kandidat pasti mencari dukungan eksternal karena terdapat porsi suara kementerian dalam pemilihan rektor.

Dalam mekanisme Pilrek Unmul, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memiliki hak suara sebesar 35 persen. 

Sementara 65 persen berasal dari suara anggota senat Unmul.

“Nah, karena ada ruang suara menteri 35 persen itu, tentu semua orang membangun komunikasi. Saya ini ibarat semut melawan gajah. Kalau katanya sudah pegang mayoritas 81 anggota senat, lalu kenapa saya yang dikhawatirkan?” ucapnya.

Rudianto Nilai Dukungan Politik Penting untuk Kemajuan Kampus

Rudianto juga membantah anggapan bahwa dirinya sedang menyeret politik praktis ke lingkungan kampus. 

Ia justru menilai dukungan politik menjadi bagian penting dalam pengembangan perguruan tinggi.

“Kampus besar seperti UI, UGM, ITB, IPB itu berkembang karena punya dukungan politik dan dukungan pemerintah yang kuat. Apakah Unmul mau dibiarkan jalan di tempat?” katanya.

Ia menegaskan komunikasi dengan politisi hanya sebatas diskusi dan upaya membangun akses ke kementerian. 

Sebab, berbeda dengan rektor aktif yang memiliki akses langsung ke kementerian, dirinya merasa perlu difasilitasi oleh legislator.

“Saya bertemu Hetifah, Budisatrio, itu benar. Saya tidak bantah. Saya diundang ke Rumah Inspirasi Budisatrio, itu benar adanya. Apa yang salah? Saya justru mengakuinya secara terbuka,” katanya.

Respons Rudianto soal Pernyataan Abdunnur dan Dorongan Perubahan di Unmul

Rudianto juga merespons pernyataan Rektor Unmul, Prof. Abdunnur, yang sebelumnya menyebut pencarian dukungan eksternal oleh bakal calon rektor tidak etis.

“Etis tidak etis, tanya beliau dulu empat tahun lalu naik pakai kendaraan apa? Apa yang saya lakukan ini tidak beda dengan rektor-rektor sebelumnya,” ujarnya.

Ia mengatakan dirinya maju bukan semata karena dukungan politik, tetapi juga dorongan dari internal kampus yang menginginkan perubahan di Unmul.

“Ada amanah dari teman-teman dosen yang ingin perubahan. Kami melihat ada gap yang harus diperbaiki di Unmul,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Rudianto meminta kontestasi Pilrek Unmul tidak dipenuhi narasi saling serang dan framing politik sepihak. 

Ia menilai seluruh kandidat seharusnya jujur mengakui bahwa komunikasi dengan pihak eksternal memang terjadi dalam dinamika pemilihan rektor.

“Saya hanya melakukan apa yang saya anggap perlu untuk memenangkan kontestasi. Tapi kalau itu disebut cawe-cawe, saya pikir itu framing yang keliru,” pungkasnya.

(wan)

 

 

Tag

MORE