“Waktu rekrutmen 81 anggota senat itu, saya dengar selalu disampaikan sudah dapat dukungan dari Bapak 01, Presiden Prabowo. Ada juga nama Pak Hashim dan Pak Dasco. Itu yang diyakinkan ke banyak orang,” katanya.
Suara Menteri 35 Persen Disebut Jadi Alasan Kandidat Bangun Komunikasi Politik
Ia menilai tudingan cawe-cawe yang diarahkan kepadanya terlalu berlebihan.
Apalagi, menurutnya, semua kandidat pasti mencari dukungan eksternal karena terdapat porsi suara kementerian dalam pemilihan rektor.
Dalam mekanisme Pilrek Unmul, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memiliki hak suara sebesar 35 persen.
Sementara 65 persen berasal dari suara anggota senat Unmul.
“Nah, karena ada ruang suara menteri 35 persen itu, tentu semua orang membangun komunikasi. Saya ini ibarat semut melawan gajah. Kalau katanya sudah pegang mayoritas 81 anggota senat, lalu kenapa saya yang dikhawatirkan?” ucapnya.
Rudianto Nilai Dukungan Politik Penting untuk Kemajuan Kampus
Rudianto juga membantah anggapan bahwa dirinya sedang menyeret politik praktis ke lingkungan kampus.
Ia justru menilai dukungan politik menjadi bagian penting dalam pengembangan perguruan tinggi.
“Kampus besar seperti UI, UGM, ITB, IPB itu berkembang karena punya dukungan politik dan dukungan pemerintah yang kuat. Apakah Unmul mau dibiarkan jalan di tempat?” katanya.
Ia menegaskan komunikasi dengan politisi hanya sebatas diskusi dan upaya membangun akses ke kementerian.
Sebab, berbeda dengan rektor aktif yang memiliki akses langsung ke kementerian, dirinya merasa perlu difasilitasi oleh legislator.
“Saya bertemu Hetifah, Budisatrio, itu benar. Saya tidak bantah. Saya diundang ke Rumah Inspirasi Budisatrio, itu benar adanya. Apa yang salah? Saya justru mengakuinya secara terbuka,” katanya.
Tag



