Arus Publik

Ruang Hidup Terakhir Badak Kalimantan Terancam Aktivitas Pencari Gaharu di Mahakam Ulu

Kehadiran para perambah ini memaksa Pari mengubah pola jelajah

Jumat, 7 November 2025 9:56

BADAK - Badak Pari, satu badak betina yang masih bertahan di hutan Mahakam Ulu/ Foto: HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Harapan terakhir bagi keberlangsungan badak Kalimantan di alam liar kini semakin rapuh.

Hasil survei lapangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama lembaga konservasi Alert pada 6–19 Mei 2025 menunjukkan bahwa satu-satunya individu yang tersisa, seekor badak betina bernama Pari, masih bertahan di lanskap Kecamatan Laham, Mahakam Ulu.

Namun, di tengah jejak kehidupan liar yang masih bisa dilacak—seperti kubangan aktif, kotoran baru, hingga tapak segar—tim juga menemukan tanda-tanda gangguan manusia yang semakin intens.

Pondok kerja baru ditemukan hanya seratus meter dari kubangan aktif, disertai jerat satwa, tulang kijang, tempurung kura-kura sungai, dan bulu rangkong.

“Keberadaan pondok ini menandakan kelompok yang menetap cukup lama di dalam hutan. Aktivitas mereka memunculkan kebisingan, asap, dan aroma manusia yang bisa memengaruhi perilaku satwa jelajah luas seperti badak,” tulis laporan hasil survei tersebut.

TEMUAN - Pondok kerja baru ditemukan hanya seratus meter dari kubangan aktif/ HO to Arusbawah.co

 

Jejak Pencari Gaharu dari Kalimantan Tengah

Survei menunjukkan para pencari gaharu memasuki kawasan hutan dari arah Kalimantan Tengah, memanfaatkan jalur aktivitas perusahaan yang menembus blok habitat badak.

Kelompok ini tinggal hingga tiga bulan di dalam hutan, membawa bahan pangan tahan lama dan melengkapi konsumsi dengan hasil buruan.

Kepala Resor Suaka Badak Kelian, Jono Adiputro, menjelaskan bahwa kegiatan berburu inilah yang menjadi sumber gangguan utama bagi Pari.

“Kami tidak melarang pencari gaharu, tapi aktivitas berburu satwa itulah yang harus dilarang. Temuan kami ada bangkai rangkong, jerat, dan tulang kancil di sekitar jalur mereka,” ujarnya.

TEMUAN - Temuan bangkai rangkong/ HO to Arusbawah.co

 

Kehadiran para perambah ini memaksa Pari mengubah pola jelajahnya.

Area yang dulunya sering dilalui kini mulai jarang ditemukan tanda keberadaan badak.

“Kemungkinan besar Pari menghindari lokasi yang kini jadi pusat aktivitas manusia,” tambah Jono.

 

Koordinasi BKSDA dan Perusahaan di Tapal Batas

Untuk mencegah gangguan lebih lanjut, BKSDA Kaltim melakukan koordinasi dengan dua perusahaan yang memiliki akses jalan di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, yaitu PT Samudra Rezeki Perkasa dan Maruwai Coal.

Asisten Manajer Operasional PT Samudra Rezeki Perkasa, Choirul Abidin, membenarkan bahwa jalur perusahaannya sering dilalui para pencari gaharu.

“Kami tidak bisa melarang warga melintas, tapi setelah koordinasi ini kami akan ikut mengingatkan agar tidak berburu satwa,” katanya.

BKSDA berharap dukungan perusahaan dapat membantu menjaga kawasan hutan dari aktivitas berburu.

“Mencari gaharu tidak dilarang, tapi yang dilarang adalah memburu satwa liar,” tegas Jono Adiputro dalam pertemuan dengan pihak perusahaan.

Langkah Penyelamatan Menuju 2026

Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, menyebut bahwa pemerintah sedang menyiapkan proses translokasi badak Pari ke Suaka Badak Kelian pada awal 2026.

Upaya ini melibatkan berbagai instansi dan pemantauan ketat di sekitar habitat saat ini.

“Kita pastikan Pari masih bisa dipantau pergerakannya sampai waktu evakuasi tiba. Sosialisasi dan pengamanan dari aktivitas perburuan dan penebangan liar terus kita lakukan,” ungkap Ari.

Survei terbaru menjadi peringatan bahwa waktu penyelamatan semakin sempit.

Hutan Mahakam Ulu kini tak lagi sunyi—kebisingan mesin, aroma manusia, dan jerat yang tertinggal menjadi ancaman nyata.

Dengan hanya satu individu tersisa, setiap gangguan bukan sekadar gangguan, tapi risiko kepunahan lokal yang nyata. (pra)

Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co

 

Tag

MORE