Arus Publik

Pemprov Kaltim Minta Maaf Usai Prabowo Tegur Posisi Duduk Sultan Kutai Kartanegara di Acara Pertamina Balikpapan

Rabu, 14 Januari 2026 20:29

Surat bernomor 400.14.5/27/B.ADPIM.1/2026 perihal tanggapan atas Surat Protes Ketua DPC Remaong Kutai Menamang (RKM) Kabupaten Kutai Kartanegara/Ho to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) melalui Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Kaltim menyampaikan permohonan maaf terkait pengaturan keprotokolan dalam Kunjungan Kerja Presiden RI.

Permohonan maaf itu berkaitan dengan acara yang dihadiri Yang Mulia Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin.

Permintaan maaf tersebut diambil menyusul ramainya pemberitaan nasional dan lokal.

Pemberitaan itu menyoroti momen Presiden RI Prabowo Subianto memprotes posisi duduk Sultan Kutai yang berada di barisan belakang, tepat di balik para pejabat negara, saat peresmian proyek strategis nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Surat Resmi Pemprov Kaltim dan Permohonan Maaf ke Sultan Kutai

Permohonan maaf tersebut tertuang dalam surat bernomor 400.14.5/27/B.ADPIM.1/2026.

Surat itu dikeluarkan Biro Adpim Setda Provinsi Kaltim pada Rabu (14/1/2026), sebagai tanggapan atas surat protes Ketua DPC Remaong Kutai Menamang (RKM) Kabupaten Kutai Kartanegara.

Dalam surat tersebut, Pemprov Kaltim secara tegas menyampaikan penyesalan.

Penyesalan itu terkait ketidaknyamanan akibat penempatan posisi duduk di barisan belakang Sultan Kutai Kartanegara dalam acara kenegaraan di Balikpapan, Senin (12/1/2026).

“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada Yang Mulia Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, H. Adji Mohammad Arifin, kerabat Kesultanan, serta seluruh keluarga besar Remaong Kutai Menamang,” demikian bunyi surat tersebut.

Permohonan maaf itu atas ketidaknyamanan terkait penempatan posisi duduk pada acara Kunjungan Kerja Presiden RI, peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, 12 Januari 2026,” lanjut isi surat itu.

Penjelasan Biro Adpim Soal Kewenangan Protokoler

Namun dalam surat yang sama, Biro Adpim menegaskan pengaturan teknis keprotokolan bukan sepenuhnya kewenangan Pemprov Kaltim.

“Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) Keprotokolan Negara, seluruh pengaturan teknis, termasuk denah tempat duduk Kunjungan Kerja Presiden RI, berada di bawah kewenangan Protokol Istana Kepresidenan bersama Paspampres,” tulis Adpim.

Pemprov Kaltim menyatakan perannya dalam kegiatan tersebut hanya bersifat pendukung di tingkat daerah.

“Protokol Pemprov Kaltim bertindak sebagai unsur pendukung yang memfasilitasi koordinasi wilayah,” tambahnya.

“Pada pelaksanaan kegiatan, kehadiran Protokol Pemprov Kaltim dibatasi hanya untuk mengarahkan pimpinan ke tempat duduk Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur,” tutup surat tersebut.

 

Kronologi Teguran Presiden Prabowo di Acara RDMP Balikpapan

Pemberitaan Arusbawah.co sebelumnya, peristiwa itu terjadi dalam peresmian proyek RDMP Balikpapan hari Senin kemarin.

Saat itu, Presiden RI Prabowo Subianto belum memulai pidato resminya.

Berdiri di podium, Prabowo membuka sambutan dengan menyapa dan mengabsen satu per satu pejabat yang hadir, mulai dari jajaran menteri Kabinet Merah Putih hingga kepala daerah.

Absensi itu dilakukan sambil memastikan kehadiran para pemangku kepentingan dalam proyek strategis nasional bernilai sekitar Rp120 triliun itu.

Prabowo sempat melontarkan candaan saat menyebut Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud yang memiliki nama belakang sama dan merupakan kakak beradik.

Momen Prabowo Menyoroti Posisi Duduk Sultan Kutai Kartanegara

Namun suasana berubah ketika Prabowo menyebut nama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Kamera langsung menyorot wajah Sultan Aji Muhammad Arifin yang berdiri dari kursinya mengenakan busana adat Kutai Kartanegara.

“Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin. Hadir? Oh yang mulia,” ujar Prabowo.

Perhatian Prabowo kemudian tertuju pada posisi duduk Sultan yang berada di barisan belakang, di balik para pejabat tinggi negara.

Situasi itu dianggap janggal oleh orang nomor satu di Indonesia itu.

“Sultan kok ditaruh di belakang? Taruh di depan!” seru Prabowo dengan nada tegas.

Teguran itu terdengar jelas di hadapan seluruh undangan dan menjadi salah satu momen paling mencolok dalam acara peresmian tersebut.

(wan)

 

Tag

MORE