Namun aplikator hanya bermodal aplikasi dan justru mengambil porsi terbesar dari transaksi, tanpa memberi jaminan kesejahteraan yang layak bagi driver di Kaltim.
"Pelanggan bayar Rp10 ribu, kami cuma dapat Rp5 ribu, bahkan ada yang Rp2 ribu. Itu karena sistem potongannya semena-mena. Aplikator bisa ambil 70-80% dari tarif. Padahal kendaraan, tenaga, bahkan layanan semuanya dari kami," keluh Ivan.
Ivan juga menjelaskan bahwa dalam struktur tarif ideal, untuk jarak dekat (0–4 km), driver seharusnya menerima pendapatan bersih Rp18.000 per perjalanan.
Aplikator Grab dan Gojek sudah mengakomodasi tuntutan itu.
Namun Maxim tetap pada tarif lama, yang menurutnya dapat mendorong persaingan tarif tak sehat jika dibiarkan.
Ivan mendesak Pemprov Kaltim agar bertindak tegas terhadap aplikator Maxim.
"Jangan sampai hanya karena satu aplikator yang tidak taat, ekosistem transportasi online kita terganggu. Harus ada sanksi yang jelas, kalau bisa di cabut aja operasionalnya," tegasnya.
Ivan juga menyerukan agar semua aplikator menghapus sistem promo dan layanan hemat, karena terbukti memangkas pendapatan driver secara langsung. (adv)
Tag



