Pembiaran terhadap praktik intimidasi hanya akan mempercepat kemunduran demokrasi lokal.
Jika intimidasi dibiarkan menjadi respons atas kritik, maka yang runtuh bukan hanya kebebasan berpendapat, tetapi juga kemerdekaan warga dalam bersuara, sekaligus legitimasi kekuasaan itu sendiri.
Kalimantan Timur tidak boleh dibangun di atas fondasi ketakutan.
Masa depan demokrasi daerah ini bergantung pada kemerdekaan dan keberanian warga untuk menjaga ruang kritik tetap hidup.
Tanpa kritik, kekuasaan mudah terperosok menjadi sekadar gema pujian yang menjauh dari realitas rakyat. (***)
Ditulis oleh Angga Wato, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda
Tulisan merupakan opini pribadi penulis dan tak mencerminkan pandangan redaksi
Baca juga:
Tag




