Arus Publik

Ngopi Bareng Sopir hingga OB, Cara Mantan Wartawan Sofyan Jufri Menjaga Telinganya Tetap Dekat dengan Suara Rakyat

BERBINCANG - Mantan Wartawan yang kini jadi anggota DPRD Balikpapan, Sofyan Jufri berkesah soal perjalannya menuju kursi legislatif kepada redaksi pada, Rabu (15/6/2026) lalu/Arusbawah.co

Bahkan, menurutnya, cara terbaik memahami persoalan warga bukan selalu lewat rapat resmi atau ruang kantor yang berpendingin udara.

Sebaliknya, suara masyarakat justru paling jujur muncul di warung kopi.

"Kalau warga datang ke kantor DPR kadang sudah gugup. Tapi kalau kita yang datang ke warung kopi, mereka ngomong apa adanya," katanya.

Karena itulah, hingga sekarang, Sofyan Jufri mengaku masih menyisihkan waktu setiap pulang kerja.

Sebelum sampai rumah, ia sengaja mampir ke warung kopi, warung bakso, tempat orang bermain catur, hingga lokasi warga berkumpul.

Di sanalah ia memilih mendengarkan.

Bukan hanya tokoh masyarakat.

Sopir, Office Boy, Petugas kebersihan, Tukang potong rumput, Guru, Nelayan hingga Porter bandara.

Semua, kata dia, menjadi sumber informasi yang sangat berharga.

"Kadang mereka bilang, 'Maaf ya Pak Dewan'. Saya bilang jangan minta maaf. Justru saya senang. Itu suara murni masyarakat," ujarnya.

Bahkan saat melakukan perjalanan dinas, Sofyan mengaku lebih memilih duduk bersama porter di bandara daripada menunggu di ruang VIP.

Ia sengaja memakai pakaian biasa agar tidak dikenali sebagai anggota DPRD.

Ketika obrolan mengalir, berbagai kritik kepada pemerintah maupun DPRD keluar begitu saja.

"Buat saya itu bahan. Karena tidak ada kepentingan politik. Itu suara asli masyarakat," katanya.

Kebiasaan mendengar itulah yang menurut Sofyan Jufri sebenarnya sudah terbentuk sejak masih menjadi wartawan.

Saat menjadi jurnalis, ia terbiasa mendengar cerita warga sebelum menuliskannya menjadi berita.

Kini, proses mendengarnya tetap sama.

Yang berbeda hanyalah tindak lanjutnya.

"Kalau jadi wartawan saya hanya menulis. Tapi kalau sekarang bisa langsung saya bawa kepada dinas, kepada wali kota, kepada yang punya kewenangan," ujarnya.

Ia memberi contoh sederhana.

Ketika mendengar keluhan guru mengenai kesejahteraan, ia tidak lagi hanya mencatat.

Keluhan itu dibawanya ke rapat, diskusi hingga pertemuan dengan organisasi perangkat daerah.

Begitu pula ketika mendengar keresahan nelayan soal BBM atau pekerja mengenai ketenagakerjaan.

"Kadang tidak harus menunggu rapat resmi. Ketemu saja dengan dinas atau wali kota, saya sampaikan."

Sofyan Jufri mengaku, masuk ke DPRD membuat proses penyampaian aspirasi menjadi lebih cepat dibanding ketika masih menjadi wartawan.

Meski begitu, ia menegaskan tidak pernah menganggap profesi wartawan lebih rendah dibanding anggota DPRD.

Sebaliknya.

Ia menyebut keduanya memiliki fungsi yang sama penting dalam mengawasi jalannya pemerintahan.

Tag

MORE