Arus Publik

CELIOS

Naskah Akademik CELIOS: Investasi Domestik hanya 11% dari Pendanaan Startup RI, Singapura dan China Kuasai 55 Persen

Indonesia Jauh Tertinggal dibanding Dominasi Investor Asal Asia

CELIOS - Investor Domestik yang Menanamkan Modalnya ke Perusahaan Digital Indonesia Hanya Sekitar 11 Persen/ Foto: Pxhere.com (Mohamed Hassan)

ARUSBAWAH.CO - Ketergantungan ekosistem startup Indonesia terhadap modal asing kembali menjadi sorotan dalam Naskah Akademik Pengembangan Dana dan Insentif Perpajakan Modal Ventura di Indonesia yang disusun oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) pada 2026.

Data menunjukkan porsi investor domestik dalam pendanaan startup digital Indonesia jauh tertinggal dibanding dominasi investor asal Asia, khususnya Singapura dan China.

Porsi Investor Domestik Hanya 11 Persen, Kalah Jauh dari Investor Asing

Berdasarkan data dealroom.co yang dikutip dalam naskah akademik tersebut, investor domestik yang menanamkan modalnya ke perusahaan teknologi atau digital Indonesia hanya sekitar 11 persen dari total investasi.

Angka ini menunjukkan bahwa sumber pendanaan startup di Indonesia masih sangat didominasi oleh modal yang berasal dari luar negeri.

Sebagai perbandingan skala, naskah akademik tersebut juga mencatat adanya selisih besar antara data investasi internasional dan data yang tercatat oleh regulator dalam negeri.

Laporan Dealstreetasia (2025) menunjukkan Indonesia memiliki kinerja penanaman modal dari venture capital sebesar USD19,72 miliar atau setara Rp286,93 triliun pada periode 2019 hingga semester I 2025, sementara total investasi yang tercatat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada periode yang sama hanya sebesar Rp4,06 triliun.

Perbedaan besar ini, menurut naskah akademik, muncul karena adanya perbedaan mendasar asal investor antara yang domestik dan luar negeri.

Singapura dan China Kuasai 55 Persen Pendanaan Startup Digital RI

Di sisi lain, naskah akademik mencatat bahwa investor asal Asia menguasai sekitar 55 persen atau setengah dari total investor, dengan dua negara paling dominan adalah Singapura dan China.

Terkait posisi Singapura, naskah akademik menjelaskan alasan mengapa negara tersebut menjadi pilihan utama venture capital asing sebelum berinvestasi ke Indonesia.

Tidak sedikit venture capital asing memilih Singapura sebagai “base” investasi sebelum masuk ke Indonesia, didorong oleh kombinasi faktor seperti rezim pajak yang relatif rendah, jaringan perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B) yang luas, infrastruktur hukum dan keuangan yang matang, serta kemudahan dalam pengelolaan modal lintas negara.

Dari Singapura, modal ventura kemudian masuk ke Indonesia terutama melalui dua jalur utama, yaitu penanaman modal langsung dalam bentuk Penanaman Modal Asing (equity) dan pemberian pinjaman (loan/debt).

Naskah akademik tersebut juga menggambarkan kondisi serupa dalam konteks data investasi yang tidak tercatat.

Gap ratusan triliun rupiah antara data investasi internasional dan data yang tercatat di OJK menunjukkan banyak transaksi menggunakan skema di luar yurisdiksi atau definisi regulasi nasional, dengan porsi investor domestik hanya sekitar 11 persen dan investor Asia mencapai sekitar 55 persen, didominasi Singapura dan China. (jay)

Tag

MORE