“Jumlah rukonya dengan nilai uang sekian itu harus dicek. Betulankah nilainya segitu? Jangan sampai susut atau meningkat. Nah, itu yang kita proses sekarang,” jelasnya.
Kondisi Terkini Mal Lembuswana
Di sisi lain, kondisi terkini Mal Lembuswana justru menunjukkan penurunan fungsi ekonomi yang cukup signifikan.
Dalam pantauan lapangan beberapa waktu lalu, dari sekitar 30 tenant di salah satu lantai, sebanyak 17 di antaranya sudah tutup.
Tingkat kekosongan lebih dari 50 persen ini menjadi indikator kuat menurunnya daya tarik pusat perbelanjaan yang dibangun sejak era 1990-an tersebut.
Sepinya tenant berdampak langsung pada aktivitas ekonomi.
Jumlah pengunjung menurun, perputaran uang melambat, dan pelaku usaha yang tersisa harus bertahan di tengah tekanan biaya operasional.
Butuh Ide Kreatif untuk Menghidupkan Kembali
Muzakkir mengakui, lokasi Mal Lembuswana sangat strategis dan membutuhkan pendekatan baru agar kembali hidup.
“Mal Lembuswana itu lokasi sangat strategis memerlukan ide-ide kreatif, yang bisa menyesuaikan dengan kekinian supaya ada tarik yang bisa kita dapatkan dengan income yang lebih besar,” pungkasnya.
(wan)
- Rudy Mas’ud Rombak Total Direksi Bankaltimtara! Tak Hanya Yamin, Eny Rochaida, Yenny Israwati, dan Siti Aisyah Juga Mau Diganti
- PAD Kaltim 2025 Meleset Rp 1,4 T: Rudy Mas'ud Belum Mampu Setara Capaian Tahun Pertama Isran Noor
- ‘Ini Niat Bantu Rakyat atau Tidak Sih’, Jawaban Fraksi PDIP Tolak Aspirasi Warga Dipotong dari 160 Jadi 25
Tag




