Setelah berada di dalam rumah adat, pasangan dipersatukan oleh kepala adat yang dalam masyarakat Kenyah disebut Amai.
Amai sendiri berarti ayah atau bapak.
Ia bukan sekadar pemimpin upacara, tetapi sosok yang mewakili orang tua adat untuk memberikan restu sekaligus nasihat kepada pasangan yang baru memasuki kehidupan rumah tangga.
Lima Benda, Lima Nasihat Leluhur
Bagian paling sakral dalam Alaq Leto adalah penyerahan lima benda adat warisan leluhur.
"Benda-benda adat itu melambangkan sumber nasihat dari para leluhur. Melalui benda-benda itu, kami atas nama leluhur memberikan nasihat kepada anak cucu," ujar Ketua Adat Dayak Kenyah Pampang, Esrom Palan.
Benda pertama adalah lampin atau tikar.
"Tikar melambangkan tempat atau wadah rumah tangga. Jika ada masalah, suami dan istri harus duduk bersama untuk menyelesaikannya," kata Esrom.
Berikutnya mandau.
"Mandau melambangkan kekuatan hati dan menggambarkan hubungan antara suami, istri, serta keluarga agar terus dipelihara, tetap berkomunikasi, dan hidup dalam persatuan," ujarnya.
Benda ketiga adalah kalung manik yang saling dikenakan kedua mempelai.
"Biji-biji kalung melambangkan nasihat-nasihat para leluhur yang mengikat kedua mempelai menjadi sebuah keluarga," katanya.
Selain itu terdapat guci, salah satu benda pusaka yang turut diserahkan dalam prosesi sebagai bagian dari warisan leluhur kepada kedua mempelai.
"Istilahnya leluhur, ibaratkan itu rumah batu. Jadi melambangkan rumah yang kokoh, seperti rumah batu yang tidak mudah roboh meski diterpa angin kencang. Rumah menjadi tempat tinggal keluarga sekaligus tempat menyimpan rahasia keluarga. Segala persoalan hendaknya diselesaikan di dalam rumah tangga itu sendiri," ujar Esrom.
Prosesi kemudian ditutup dengan penyerahan gong.
"Gong melambangkan tempat menetap atau tempat mereka membangun kehidupan bersama. Bunyi gong juga menjadi simbol bahwa kehidupan mereka membawa kabar baik. Selain itu, gong juga menggambarkan atap rumah," tutur Esrom.
Adat yang Terus Dijaga

Bagi Esrom Palan, seluruh rangkaian Alaq Leto sesungguhnya memiliki satu tujuan.
Bukan mempertontonkan kemegahan adat.
Melainkan mengingatkan bahwa pernikahan adalah janji yang harus dipertanggungjawabkan.
Bagi Esrom Palan, seluruh rangkaian Alaq Leto bukan sekadar tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Setiap prosesi menjadi media untuk menyampaikan nasihat kepada kedua mempelai sebelum memasuki kehidupan baru sebagai suami istri.
Mereka harus menghormati dan mengikuti seluruh aturan adat yang dilaksanakan. Semua nasihat itu diberikan agar menjadi bekal dalam menjalani kehidupan rumah tangga ke depan," ujar Esrom.
Pesan itulah yang tercermin dalam setiap tahapan Alaq Leto, mulai dari prosesi penjemputan mempelai perempuan, adu panco, menaiki tangga rumah adat, hingga penyerahan benda-benda pusaka sebagai simbol nasihat para leluhur. (Rafika Widyanasari)
- Modal Nama dan Foto Lawas, Penza Rizky Temukan Ibu Kandung yang Terpisah 27 Tahun, Sempat Berpapasan di Samarinda Tanpa Saling Kenal
- Mahasiswi FH Unmul Raih Juara 1 Debat Nasional, Ungguli 22 Universitas se-Indonesia
- Untuk-untuk Rp2.000, Rasa dan Sejarah yang Hidup di Samarinda
- Tiga Generasi Menjaga Manisnya Wadai Talam di Jalan Biawan Samarinda
Tag




