Feature

Menengok Sakralnya Pernikahan Adat Dayak Kenyah Lewat Alaq Leto

Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 yang berlangsung pada 25–28 Juni di Desa Budaya Pampang, Kelurahan Sungai Siring, Kecamatan Samarinda Utara/ Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Seorang perempuan keluar dari rumahnya.

Senyum manis terukir dari bibirnya.

Ia mengenakan busana adat Dayak Kenyah yang anggun. Berdiri di hadapan rombongan mempelai pria yang datang menjemput calon istrinya.

Namun perempuan itu bukan pengantin.

Rombongan mempelai pria tidak boleh langsung bertemu calon mempelai perempuan.

Mereka harus lebih dulu melewati sebuah ujian sederhana, tetapi sarat makna: apakah sang pria benar-benar mengenal perempuan yang akan menjadi pendamping hidupnya.

Setiap langkah dalam Alaq Leto memiliki makna. 

Tak ada prosesi yang sekadar menjadi pelengkap, karena semuanya berisi nasihat tentang memilih pasangan, menjaga kesetiaan, dan mempertahankan rumah tangga.

Tradisi itu kembali diperagakan dalam Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 yang berlangsung pada 25–28 Juni di Desa Budaya Pampang, Kelurahan Sungai Siring, Kecamatan Samarinda Utara.

Bagi masyarakat Dayak Kenyah, Alaq Leto bukan sekadar pertunjukan budaya.

Ia adalah rangkaian nasihat yang diwariskan leluhur tentang bagaimana membangun sebuah rumah tangga.

"Adat pernikahan ini kami lestarikan karena prinsip orang Dayak sesuai dengan ajaran agama, yaitu sekali berkeluarga tidak boleh bercerai. Karena itu, setiap orang harus bertanggung jawab," ujar Ketua Adat Dayak Kenyah Pampang, Esrom Palan, kepada Arusbawah.co, Sabtu (27/6/2026).

Menurutnya, perkawinan adat bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga mengikat mereka pada tanggung jawab yang harus dijaga sepanjang hidup.

"Kami menikah secara adat supaya anak-anak yang menikah tidak hanya ingin hidup bersama, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam rumah tangga," katanya.

Dahulu, Alaq Leto merupakan upacara adat yang hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan Dayak Kenyah.

"Seluruh rangkaian upacara itu menggambarkan bahwa Alaq Leto merupakan upacara adat kaum bangsawan Dayak Kenyah," ujar Esrom Palan.

Namun, aturan tersebut tidak lagi berlaku. Esrom mengatakan, masyarakat Dayak Kenyah telah meninggalkan sistem kasta sejak memasuki masa yang ia sebut sebagai zaman burung enggang.

"Pada zaman burung enggang sudah tidak ada lagi kasta. Kalau zaman harimau dulu, hanya orang kuat atau bangsawan yang memiliki syarat-syarat tertentu," katanya.

Bagi masyarakat Dayak Kenyah, Alaq Leto bukan sekadar pertunjukan budaya/ Arusbawah.co

 

Mempelai Pria Harus Membuktikan Pilihannya

Prosesi Alaq Leto dimulai ketika rombongan mempelai pria mendatangi kediaman mempelai perempuan.

Namun calon pengantin wanita tidak langsung muncul.

Yang keluar justru perempuan lain.

Tradisi ini bukan sekadar bagian dari pertunjukan.

Menurut Esrom, hal itu menjadi simbol bahwa seseorang harus benar-benar mengenal pasangan hidup yang dipilihnya.

"Itu sebagai simbol bahwa untuk benar-benar mengenal seorang perempuan, seseorang harus mampu memilih dengan tepat sebelum akhirnya menentukan pasangan hidupnya," jelasnya.

Pesan itu sederhana, tetapi dalam.

Tag

MORE