Pernikahan bukan hanya soal cinta, melainkan juga keputusan yang harus diambil dengan penuh keyakinan.
Adu Panco, Jejak Masa Ketika Hanya Bangsawan yang Boleh Menikah Antar Kampung
Setelah berhasil "menemukan" calon mempelai perempuan, ujian berikutnya menanti.
Perwakilan mempelai pria harus beradu panco dengan wakil dari pihak perempuan.
Kini prosesi itu hanya simbol.
Namun dahulu memiliki makna yang jauh lebih besar.
"Dahulu hanya kaum bangsawan yang boleh mengambil istri dari kampung lain. Karena mereka dianggap orang kuat dan bangsawan, mereka berani mengambil istri dari tempat lain," kata Esrom.
Adu panco menjadi lambang keberanian sekaligus ketangguhan seorang laki-laki.
Meski demikian, Esrom menegaskan aturan itu kini telah berubah.
Pada masa yang disebutnya sebagai zaman burung enggang, sistem kasta sudah tidak lagi berlaku.
"Kalau zaman burung enggang sudah tidak ada lagi kasta," ujarnya.
Dari Zaman Harimau Menuju Zaman Burung Enggang
Perubahan terbesar dalam filosofi pernikahan Dayak Kenyah tercermin dari simbol yang digunakan.
Jika dahulu menggunakan harimau, kini digantikan burung enggang.
Pergantian simbol itu bukan tanpa alasan.
Esrom menjelaskan, zaman harimau menggambarkan masa ketika masyarakat masih menganut kepercayaan lama.
Saat itu keberanian berperang menjadi ukuran kehormatan seseorang.
"Dahulu simbolnya harimau. Itu adalah zaman ketika masyarakat masih menganut kepercayaan animisme, percaya kepada Bungan Malan. Pada masa itu orang sering berkelahi dan saling membunuh. Orang yang dianggap baik adalah orang yang berani. Dalam urusan perkawinan pun seorang laki-laki bisa memiliki banyak perempuan," tuturnya.
Kini masyarakat memasuki zaman burung enggang.
Burung yang menjadi ikon suku Dayak itu melambangkan kedamaian, kesetiaan, dan kehidupan yang harmonis.
"Pada zaman burung enggang, yang melambangkan perdamaian, sudah tidak boleh lagi bercerai kecuali dipisahkan oleh kematian. Itu sesuai dengan ajaran agama," katanya.
Menapaki Tangga Kehidupan
Usai prosesi penjemputan, kedua mempelai menuju tempat pelaksanaan pernikahan yang telah disiapkan keluarga mempelai pria.
Rombongan disambut oleh tokoh adat sebelum memasuki rumah adat.
Sebelum naik ke atas rumah, pasangan pengantin menaiki tangga secara perlahan.
Bagi masyarakat Dayak Kenyah, tangga bukan sekadar akses menuju rumah.
Tangga adalah lambang perjalanan hidup.
"Maknanya sangat besar. Tangga melukiskan nilai-nilai kehidupan. Naik ke rumah tidak boleh sembarangan, ada tata cara dan penghormatan yang harus dijaga," ujar Esrom.
Tag



