ARUSBAWAH.CO - Sore itu, aroma santan yang dimasak perlahan menyeruak dari dapur sederhana di kawasan Biawan, Samarinda.
Uap tipis masih mengepul dari kukusan besar ketika satu per satu loyang wadai talam diangkat dengan hati-hati, permukaannya mengilap dan hangat.
Menjelang berbuka, suasana mendadak riuh.
Pembeli berdatangan, sementara para pedagang sigap mengiris kue menjadi potongan segitiga, membungkusnya dengan plastik bening, lalu menyerahkannya ke tangan pelanggan yang tak sabar menunggu azan magrib.
Wadai talam sendiri merupakan kue tradisional berbahan dasar santan dan tepung beras.
Biasanya dipadukan dengan gula merah, telur, atau ketan.
Teksturnya lembut dan berlapis, dikukus dalam loyang besar lalu dipotong sebelum disajikan.
Kue ini kerap hadir sebagai sajian berbuka puasa, hajatan, hingga acara keluarga.
Ragam Jenis Wadai Talam yang Dijual
Jenisnya pun beragam.
Di antaranya amparan tatak pisang, sari muka hijau, sari muka ketan, mandapa, lapis singkong, lapis india, lapis hula-hula, sari penganten, nangka susun hijau, hingga kararaban.
Kisah Nuri: Warisan Keluarga Sejak 1990-an
Bagi Nuri (35), berjualan wadai talam bukan sekadar usaha musiman.
Ia sudah akrab dengan loyang dan kukusan sejak kecil.
“Sudah lama banget, puluhan tahun. Mulai saya masih SD sudah jualan,” ujarnya saat ditemui Arusbawah.co, Sabtu (21/2/2026).
Usaha ini merupakan warisan keluarga yang dimulai dari sang nenek pada awal 1990-an.
Tag



