Peserta tidak langsung tampil di tingkat provinsi, melainkan melalui tahapan seleksi mulai dari kecamatan, kabupaten/kota, hingga provinsi.
“MTQ itu berjenjang. Dari kecamatan dulu, lalu kota, baru provinsi. Jadwalnya juga rutin setiap tahun,” jelasnya.
Dengan sistem tersebut, siswa yang memiliki kemampuan di bidang tilawah, azan, maupun kaligrafi sebenarnya memiliki jalur pengembangan yang konkret.
Tantangannya ada pada kesinambungan latihan.
Minim Latihan dan Kepercayaan Diri
Dari pengamatannya di lapangan, Sidik menilai kualitas peserta belum merata.
Bukan karena tidak berbakat, melainkan kurangnya pembinaan rutin.
“Dari 20 peserta azan, mungkin hanya sekitar enam yang benar-benar bagus. Itu pun karena mereka belum terlatih,” katanya.
Selain teknik, persoalan mental juga menjadi hambatan. Banyak siswa dinilai belum percaya diri untuk tampil, bahkan sekadar menjadi muazin di lingkungan sekolah.
“Kadang mereka tidak mau azan karena belum percaya diri. Kalau sudah terbiasa, nanti justru mereka yang maju,” ujarnya.
Tag



