Istana bahkan mendorong relokasi atau transformasi usaha—khususnya di sektor HPH dan aktivitas ekstraktif yang merusak.
Ini bukan pembiaran, tetapi mengarahkan perusahaan untuk mematuhi aturan baru tanpa merusak sendi-sendi ekonomi lokal.
Negara Hadir dengan Nalar, Bukan Amarah
Dibandingkan kritik dangkal yang hanya memotret satu sisi, pernyataan Mensesneg lebih komprehensif: tegas pada pelanggaran, namun tidak ceroboh dalam menata ekonomi rakyat.
Inilah bedanya negara yang menggunakan otoritas dengan akal sehat, bukan dengan nafsu politik jangka pendek.
Negara hadir bukan untuk mematikan, tetapi untuk menertibkan sambil memastikan rakyat tetap memiliki masa depan. (***)
Ditulis di Bacang, 28 Januari 2026 oleh Bin Bin F, Dewan Pembina Institute Nalar Bangsa
Tulisan merupakan opini pribadi penulis dan tak mencerminkan pandangan redaksi
- Ambang Batas 0 Persen: Implementasi Paling Otentik dari Demokrasi Pancasila
- Dolar Naik, Rupiah Tersungkur: Siapa yang Sebenarnya Mengkhianati Ekonomi Nasional?
- Serakahnomic: Ideologi Perampokan Terorganisir atas Nama Pasar
- Defisit Bukan Masalah, Ketakutan pada Defisitlah yang Bermasalah
- Dilema Lingkungan Kaltim: Antara Harta Karun dan Warisan Karbon
Tag




