ARUSBAWAH.CO - Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa soal defisit APBN 2025 yang mencapai 2,92% dari PDB sesungguhnya sedang membuka tabir persoalan lama kebijakan fiskal Indonesia: selama ini negara terlalu takut pada defisit, sampai lupa pada ekonomi riil dan rakyatnya sendiri.
Ketika Purbaya menyatakan bahwa defisit nol bisa saja dibuat, tetapi akan membuat ekonomi “morat-marit”, ia sedang mengatakan sesuatu yang selama ini tabu diucapkan secara jujur: keseimbangan anggaran bukan tujuan negara, melainkan alat.
Dan alat itu harus tunduk pada kepentingan ekonomi nasional, bukan sebaliknya.
Warisan Era Lama: APBN yang Takut Bertindak
Selama puluhan tahun pasca-Reformasi, kebijakan fiskal Indonesia hidup di bawah bayang-bayang satu doktrin sempit: defisit harus ditekan serendah mungkin, apa pun risikonya.
Logika ini bukan lahir dari konstitusi, bukan pula dari kebutuhan rakyat, melainkan dari trauma krisis dan kepatuhan buta pada resep fiskalis global.
Akibatnya jelas:
- Negara cepat mengerem saat ekonomi melemah
- APBN kehilangan fungsi intervensinya
- Stabilitas makro dipuja, sementara struktur ekonomi dibiarkan rapuh
Dalam paradigma lama itu, APBN lebih sibuk menenangkan pasar daripada menggerakkan produksi.
Defisit dianggap kesalahan, belanja dianggap beban, dan negara dipaksa berperan seperti perusahaan yang takut rugi.
Purbaya Mematahkan Dogma
Apa yang disampaikan Purbaya adalah koreksi terbuka terhadap warisan tersebut.
Ia menegaskan bahwa defisit 2,92% bukan kegagalan, melainkan pilihan sadar untuk menjaga ekonomi tetap ekspansif di tengah tekanan global.
Tag



