Isi deklarasinya menegaskan:
- pendanaan iklim harus bebas utang dan tanpa syarat,
- anak muda wajib dilibatkan dalam tiap tahap kebijakan,
- akuntabilitas perusahaan atas kerusakan lingkungan,
- perlindungan pembela lingkungan muda,
- serta keterbukaan data agar publik dapat mengawasi kebijakan iklim.
Juan David Amaya, Direktur Eksekutif Life of Pachamama, menyebut COP30 sebagai momentum politik penting.
“Selama bertahun-tahun, Selatan Global hanya dipandang sebagai korban. Kini, anak muda dari Amerika Latin, Afrika, dan Asia menunjukkan bahwa kami adalah gagasan dan kekuatan politik,” ujarnya.
Demokratisasi Kebijakan Iklim
Icheiko menilai gagasan Democratization of the South adalah kunci membangun tata kelola iklim yang adil.
“Demokratisasi berarti mengembalikan ruang keputusan kepada negara-negara Selatan Global. Kami yang paling terdampak, tapi punya kuasa paling kecil dalam menentukan arah solusi,” ucapnya.
Ia menegaskan, suara anak muda tak boleh hanya didengar—melainkan ikut menentukan arah masa depan.
Menjaga Api Harapan dari Komunitas
Bagi Icheiko, perjuangan tidak berhenti di forum internasional.
Ia ingin lebih banyak ruang kolaborasi antara anak muda, komunitas lokal, sektor swasta, dan pemerintah.
Gerakan iklim harus hidup di akar rumput, berkembang menjadi ekosistem yang mendukung energi terbarukan, ekonomi biru, dan ketahanan masyarakat pesisir.
“Harapan saya sederhana. Setiap negara harus punya ruang yang setara untuk menentukan masa depan bumi,” tutupnya. (pra)
Tag




