Arus Publik

COP 30 di Brasil

Harapan Baru dari Pesisir: Suara Anak Muda Indonesia Menggema di Forum Iklim Dunia

Selasa, 25 November 2025 9:54

Icheiko dalam salah satu acara Gawirea/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Tahun 2025 diprediksi menjadi tahun terpanas kedua dalam sejarah.

Bagi sebagian orang, itu hanya deretan angka.

Namun bagi Icheiko Ramadhanty, realitas itu sudah terlihat jelas di pesisir Indonesia: air laut naik, cuaca makin sulit diprediksi, hingga hasil tangkapan nelayan terus menurun.

Banyak keluarga pesisir kehilangan pendapatan karena pola melaut tak lagi bisa ditebak.

“Di Ambon, saya melihat langsung bagaimana perempuan pesisir kehilangan penghasilan dari olahan ikan karena pencemaran laut dan hasil tangkapan yang makin sedikit,” ujar Icheiko.

AKTIVITAS MASYARAKAT - Aktivitas masyarakat pesisir (Foto_ Pexels)

 

Dari Garis Pantai ke Forum Dunia

November ini, langkah Icheiko membawanya jauh dari pesisir Indonesia menuju Belém, Brasil, untuk hadir di COP30, forum iklim terbesar dunia.

Ia menjadi salah satu dari 16 pemimpin muda dari negara-negara Selatan Global yang terpilih mengikuti rangkaian agenda hingga 21 November 2025.

Keterlibatan Icheiko dalam GAWIREA (Girls and Women in Renewable Energy Academy)—sebuah inisiatif penguatan energi terbarukan dan ketahanan iklim di komunitas pesisir—mendapat sorotan organisasi Life of Pachamama dari Kolombia, yang kemudian memilihnya sebagai delegasi muda dari Indonesia.

Sebagai Communications and Community Development Manager GAWIREA, Icheiko membawa suara perempuan, masyarakat pesisir, dan generasi muda Indonesia untuk memperjuangkan keadilan iklim.

“Di COP30, saya ingin menagih komitmen negara-negara kaya agar menyediakan pendanaan iklim yang adil, tanpa menambah utang dan tanpa syarat. Termasuk memastikan Loss and Damage Fund benar-benar terisi dan bisa diakses mereka yang paling rentan,” tegasnya.

PEMIMPIN MUDA - Para pemimpin muda dari tiga benua yang turut menandatangani deklarasi (Dok. Life of Pachamama)

 

Transisi Energi Tak Boleh Tinggalkan Komunitas

Menurut Icheiko, COP30 berlangsung di tengah polarisasi global yang memuncak.

Di satu sisi, komitmen negara maju kian goyah. Namun di sisi lain, pertumbuhan energi terbarukan menunjukkan peluang besar.

Tantangannya: bagaimana memastikan semua orang mendapat manfaat yang adil dari transisi energi tersebut.

Melalui program Net Zero Heroes, GAWIREA telah memperkenalkan pembelajaran energi bersih kepada lebih dari 1.000 anak muda di Indonesia dan Asia Pasifik—sekitar 80 persen di antaranya perempuan.

Mereka belajar dasar transisi energi, keadilan iklim, hingga cara merancang proyek komunitas.

Hasilnya, beberapa alumni sudah menjalankan inisiatif nyata seperti konservasi mangrove, pengolahan sampah, hingga pemasangan panel surya di daerah terpencil.

“Kami ingin anak muda memahami krisis iklim dan tahu langkah praktis untuk menghadapinya,” kata Icheiko.

Pengalamannya di lapangan membuatnya semakin sadar akan ketimpangan energi.

“Banyak keluarga di pulau kecil masih hidup dengan genset. Sementara kota-kota besar bicara kendaraan listrik. Kesenjangan seperti ini harus diubah,” tambahnya.

 

Menegaskan Suara Selatan Global

Kiprah Icheiko membawanya terpilih sebagai delegasi dalam program Pathway to the Democratization of the South. Program ini diikuti 10.700 peserta dari negara-negara Selatan Global selama enam bulan, dengan pelatihan diplomasi iklim, kebijakan, hingga komunikasi strategis.

Puncaknya adalah lahirnya Deklarasi Pemuda Selatan Global, yang dibawa ke COP30 sebagai sikap resmi generasi muda Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Isi deklarasinya menegaskan:

  • pendanaan iklim harus bebas utang dan tanpa syarat,
  • anak muda wajib dilibatkan dalam tiap tahap kebijakan,
  • akuntabilitas perusahaan atas kerusakan lingkungan,
  • perlindungan pembela lingkungan muda,
  • serta keterbukaan data agar publik dapat mengawasi kebijakan iklim.

Juan David Amaya, Direktur Eksekutif Life of Pachamama, menyebut COP30 sebagai momentum politik penting.

“Selama bertahun-tahun, Selatan Global hanya dipandang sebagai korban. Kini, anak muda dari Amerika Latin, Afrika, dan Asia menunjukkan bahwa kami adalah gagasan dan kekuatan politik,” ujarnya.

Demokratisasi Kebijakan Iklim

Icheiko menilai gagasan Democratization of the South adalah kunci membangun tata kelola iklim yang adil.

“Demokratisasi berarti mengembalikan ruang keputusan kepada negara-negara Selatan Global. Kami yang paling terdampak, tapi punya kuasa paling kecil dalam menentukan arah solusi,” ucapnya.

Ia menegaskan, suara anak muda tak boleh hanya didengar—melainkan ikut menentukan arah masa depan.

Menjaga Api Harapan dari Komunitas

Bagi Icheiko, perjuangan tidak berhenti di forum internasional.

Ia ingin lebih banyak ruang kolaborasi antara anak muda, komunitas lokal, sektor swasta, dan pemerintah.

Gerakan iklim harus hidup di akar rumput, berkembang menjadi ekosistem yang mendukung energi terbarukan, ekonomi biru, dan ketahanan masyarakat pesisir.

“Harapan saya sederhana. Setiap negara harus punya ruang yang setara untuk menentukan masa depan bumi,” tutupnya. (pra)

 

Tag

MORE