ARUSBAWAH.CO - Video seekor induk orangutan bersama bayinya yang berjalan lemas melintasi jalan hauling tambang batu bara di Kalimantan Timur kembali viral dan menyita perhatian publik dunia.
Dalam video yang pertama kali beredar pada September 2023 itu, kondisi induk orangutan terlihat sangat memprihatinkan.
Tubuhnya kurus kering, rambut banyak rontok, dan tampak kesulitan bergerak sambil membawa anaknya.
Belakangan diketahui, induk orangutan tersebut bernama Mauliyan, sementara bayinya bernama Ariandi.
Keduanya ditemukan di kawasan perbatasan konsesi tambang batu bara milik PT G**** A*** M***** dan PT I******, tepatnya di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur.
Kawasan tersebut merupakan bagian dari lanskap Karaitan, habitat penting orangutan di Kalimantan Timur yang kini terus terfragmentasi akibat aktivitas tambang, perkebunan sawit, dan Hutan Tanaman Industri (HTI).
Habitat Orangutan Terpecah Jadi “Pulau-Pulau” Kecil
Berdasarkan penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA), PT G**** A*** M***** memiliki izin konsesi tambang seluas sekitar 10.600 hektare.
Sementara PT I****** mengelola area tambang mencapai 25 ribu hektare.
Dua perusahaan itu aktif beroperasi di kawasan meta populasi orangutan yang mencakup Kecamatan Bengalon, Kaubun, dan Kaliorang.
Di wilayah tersebut, habitat orangutan kini terpecah menjadi kantong-kantong hutan kecil yang tidak lagi saling terhubung.
Kondisi itu membuat satwa endemik Pulau Borneo semakin sulit mencari sumber makanan alami dan terpaksa keluar menuju area terbuka, termasuk jalan hauling tambang.
Proses Evakuasi Dramatis Mauliyan dan Ariandi

Pada 25 September 2023, tim rescue dari Centre for Orangutan Protection (COP) bersama mitra konservasi akhirnya berhasil mengevakuasi Mauliyan dan Ariandi.
Manager pusat rehabilitasi orangutan COP, Widi Nursanti, mengatakan tim rescue menemukan keduanya di kawasan hutan yang telah beralih fungsi menjadi area pertambangan.
“Tim rescue kami menemukan Mauliyan dan anaknya Ariandi di kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi pertambangan dan kondisinya saat itu cukup memprihatinkan,” ujarnya.
Tim rescue bahkan harus menginap di bawah pohon tempat Mauliyan tidur demi membatasi pergerakan induk dan anak orangutan tersebut agar proses evakuasi bisa dilakukan lebih aman.
Pagi hari sebelum matahari terbit, tim mulai melakukan pembiusan menggunakan senapan bius khusus.
Tag



