Rangkaian karnaval tarian dibuka dari Aceh (Ratoh Jaroe, Seudati, Rapa'i Geleng), berlanjut ke Sumatera Utara (Tor-Tor, Butet), Jambi (Tari Cawan, Injit-Injit Semut), Riau (Zapin, Pak Pung Pak Mustafa), Sumatera Selatan (Gending Sriwijaya), Lampung (Pang Lipang Dang), hingga Sumatera Barat (Kambanglah Bungo).
Semua dikombinasikan dengan tarian modern seperti jazz latin, balet, dan hip hop.
Komposer Elwin Hendrijanto, selaku music director, mengaransemen musik yang dikolaborasikan dengan musisi tradisional Nusantara di bawah arahan Kidung Basuki.

Riset, Otentisitas, dan Inovasi dalam Koreografi
Lead Koreografer Sandhidea Cahyo Nurpati menjelaskan bahwa 35 koreografi telah disiapkan dari total hampir 100 koreografi yang sedang dikembangkan.
Proses riset dilakukan langsung ke daerah-daerah asal tari demi menjaga otentisitas gerak.
"Tantangan kami adalah menyatukan gerak tari Melayu dengan unsur kontemporer yang dibawakan oleh penari dari berbagai latar belakang," jelas Sandhidea.
Testimoni Penari: Dari Papua hingga Aceh, Jadi Keluarga
Penari asal Papua, Aljufikar Rahawarin menyebut proses latihan sebagai kawah candradimuka. "Kami ditempa untuk lebih mencintai seni budaya Nusantara."
Nindi Syafura dari Aceh menambahkan, "Kami semua berasal dari latar belakang berbeda, tapi proses ini membuat kami jadi satu keluarga."
Kostum Spektakuler dan Kolaborasi Fashion
Visual panggung diperkaya oleh kolaborasi bersama Jember Fashion Carnival dan Pesona Gondanglegi.
Tag



