ARUSBAWAH.CO - Mujianto Sapi’i tampak sibuk memberi makan Si Bejo di kandangnya.
Sapi jantan berbobot lebih dari satu ton itu akan disembelih sebagai sapi bantuan Presiden (Banpres) untuk Iduladha 1447 Hijriah atau 2026 di Kalimantan Timur dalam beberapa hari ke depan.
Tubuh Si Bejo besar.
Bobotnya kini mencapai 1 ton 70 kilogram. Namun menurut Mujianto, sapi jantan berjenis Brahman Cross itu dulu bukan hewan yang mudah dipelihara.
Sapi itu dirawat di peternakan milik Mujianto di kawasan Tanah Merah, Samarinda Utara.
“Historinya kenapa saya kasih nama Si Bejo, karena sapi ini nakalnya minta ampun. Susah sekali dijinakkan,” tuturnya kepada Arusbawah.co, Sabtu (23/5/2026).
Si Bejo didatangkan dari Sulawesi sekitar setahun lalu dengan bobot awal sekitar 900 kilogram.
Saat pertama tiba di kandang, sapi itu bahkan sempat membuat Mujianto kewalahan karena sulit makan.
“Waktu pertama saya ambil, makannya susah sekali. Sampai kadang saya mau nangis,” katanya sambil tertawa kecil.
Ia mengaku sempat khawatir karena sapi tersebut tidak memiliki nafsu makan seperti sapi lainnya. Padahal, perawatan terus dilakukan setiap hari.
“Sudah dirawat baik-baik, tapi dia belum mau makan lahap,” ujarnya.
Namun seiring waktu, kondisi Si Bejo perlahan membaik. Ketelatenan Mujianto dalam merawat, menjaga pola makan, serta mendampingi proses adaptasi sapi itu akhirnya membuahkan hasil hingga Si Bejo tumbuh stabil dan sehat.
“Sekarang malah manja sekali,” kata Mujianto.
Setiap hari Si Bejo diberi makan dua kali, pagi dan sore.
Pakan yang digunakan berupa fermentasi rumput dan konsentrat racikan sendiri.
Untuk fermentasi, Mujianto menggunakan rumput Pakchong, Gama Umami, dan Samsibar.
Rumput Pakchong bahkan ditanam sendiri di lahannya untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak.
“Menurut saya, kalau beternak yang penting itu pakan dulu, makanya harus punya lahan buat rumput," katanya.
Sementara konsentrat dibuat dari campuran bungkil sawit, gaplek, roti, premiks, dedak, hingga kulit kopi.
“Semua dicampur lalu diuji di laboratorium untuk melihat kandungan proteinnya,” jelasnya.
Menurut Mujianto, metode fermentasi membuat pertumbuhan sapi lebih maksimal sekaligus mengurangi bau kandang.
“Makanya kandang saya tidak terlalu bau,” ujarnya.
Terpilihnya Si Bejo sebagai sapi kurban Presiden bermula dari telepon yang diterimanya dari Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur sekitar dua bulan lalu.
Saat itu, petugas menanyakan apakah ia memiliki sapi dengan bobot di atas satu ton.
Padahal sebelumnya, Si Bejo sempat ditawar seorang pengusaha dengan harga Rp135 juta. Namun transaksi tersebut belum mencapai kesepakatan.
“Pas saya ditelepon dari dinas, ditanya ada sapi yang bobotnya di atas satu ton atau tidak. Saya bilang ada, lalu sapi ini diajukan ikut seleksi,” ujar Mujianto.
Tak lama setelah itu, Si Bejo masuk proses seleksi bersama sejumlah sapi dari daerah lain seperti Balikpapan, Samboja, dan Tenggarong.
Dari proses tersebut, Si Bejo akhirnya terpilih menjadi sapi kurban Presiden untuk Kalimantan Timur.
Tahun ini, sapi kurban Presiden untuk Kaltim dibeli dengan nilai sekitar Rp120 juta.
“Kalau masalah nilai uang saya rasa sih biasa. Cuma kepuasan kita beternak, dipilih oleh Bapak Presiden itu suatu kepuasan tersendiri," ungkap Mujianto.
Bagi Mujianto, terpilihnya Si Bejo bukan kali pertama kandangnya memasok sapi kurban Presiden.
Sejak 2021, pada masa Presiden Joko Widodo, sapi dari kandangnya sudah beberapa kali terpilih menjadi sapi Banpres.
“Alhamdulillah empat tahun berturut-turut,” ujarnya.
Mujianto sendiri bukan peternak biasa. Ia pernah mendapat kesempatan belajar berternak sapi jumbo di Australia.
Di sana, ia belajar langsung di peternakan dengan kapasitas hingga 20 ribu ekor sapi.
“Ilmu dari sana saya pakai sampai sekarang, dan saya bagikan juga ke teman-teman peternak,” ujarnya.
Kini, selain mengelola peternakan sapi jumbo miliknya sendiri, Mujianto juga aktif membina peternak lain sebagai Ketua APPSI Borneo yang membawahi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara.
(raf)
- Dituding Begini saat Temui Massa, Rudy Mas'ud: Saya Jawab kok Dibilang Arogan
- RSUD AWS Masih Tunggu Undangan Audiensi Dewan soal Bayi Syahdu
- Rudy Mas’ud Bilang Setujui Hak Angket, Castro: 'Hanya Gimik untuk Meredam Demo'
- Diminta Mundur Jabatan dan Setujui Hak Angket Lewat Golkar, Rudy Mas'ud: Pakai Proses dong, Ada Tata Negara Ada Aturan Main




