Arus Publik

Cerita Helmi Abdullah Merantau ke Samarinda, Kirim Puluhan Lamaran Kerja hingga Diterima 'Ngurus' Distribusi Film Bioskop

Sabtu, 30 Mei 2026 18:12

DEEPTALK - Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah, saat menjadi narasumber program DeepTalk Arusbawah.co

Mulai dari tenaga honorer hingga perusahaan-perusahaan yang saat itu sedang berkembang di Kalimantan Timur.

"Ngelamar tenaga honor pemerintahan, ke swasta juga, sebanyak-banyaknya pokoknya," ungkapnya.

Sebulan berlalu, usahanya membuahkan hasil.

Helmi mendapat panggilan kerja dari PT Samalo, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi perfilman dan sejumlah produk lainnya.

Gaji Rp100 Ribu dan Tekad Menjadi Sarjana

Di perusahaan tersebut, Helmi ditempatkan di bagian distribusi film bioskop. Tugasnya mengurus penyewaan rol film ke sejumlah bioskop di Samarinda.

Saat itu, bioskop seperti Mahakam, Parahyangan, Kaltim Theater, hingga Wisma Citra masih menjadi pusat hiburan masyarakat di Samarinda.

"Itu pekerjaan pertama saya. Ngurus distribusi film bioskop," ujarnya.

Pada tahun 1990, ia menerima gaji sekitar Rp100 ribu per bulan. Dengan penghasilan itu, Helmi menjalani kehidupan perantau di Samarinda sambil tinggal di rumah tantenya.

"Itu gaji saya waktu itu sekitar Rp100 ribu sebulan," katanya.

Meski sudah bekerja, keinginan untuk kuliah tak pernah benar-benar hilang.

Setelah memiliki penghasilan sendiri, ia mulai mencari kampus yang memungkinkan dirinya tetap bekerja pada siang hari.

Universitas Mulawarman sempat menjadi pilihan. Namun jadwal kuliah yang berlangsung pagi hingga siang hari membuatnya sulit membagi waktu dengan pekerjaan.

"Nah, waktu di Unmul enggak bisa sudah karena waktu itu di Unmul itu kan harus kuliahnya kan pagi, nggak mungkin bisa," ucapnya.

Akhirnya, Helmi menemukan dua perguruan tinggi yang menyediakan kelas sore dan malam, yakni Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda dan Universitas Widyagama Mahakam.

Dari dua pilihan tersebut, ia menjatuhkan pilihan ke Universitas Widyagama Mahakam karena biaya kuliahnya lebih terjangkau.

"Waktu itu per semesternya Rp15.000. Cukup lah dengan gaji Rp100 ribu kan waktu itu," ujarnya.

Sejak saat itu, rutinitasnya berubah. Pagi hingga sore bekerja, malam hari mengikuti perkuliahan. Seluruh biaya pendidikan dibayarnya sendiri dari hasil bekerja.

"Pagi sampai jam 5 sore kerja. Malam kuliah. Jadi Berat memang, tapi saya jalani saja," katanya.

Keputusan tersebut menjadi langkah awal yang membuka jalan bagi perjalanan hidupnya di Samarinda.

Dari seorang perantau yang datang untuk mencari pekerjaan, Helmi perlahan membangun pendidikan, pengalaman organisasi, dan karier yang kemudian membawanya hingga dipercaya memimpin DPRD Samarinda saat ini. (raf)

 

Tag

MORE