Arus Publik

Cerita Helmi Abdullah Merantau ke Samarinda, Kirim Puluhan Lamaran Kerja hingga Diterima 'Ngurus' Distribusi Film Bioskop

Sabtu, 30 Mei 2026 18:12

DEEPTALK - Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah, saat menjadi narasumber program DeepTalk Arusbawah.co

Kala itu, siswa hanya menerima tugas lalu dipersilakan pulang karena belum ada guru yang mengajar secara tetap.

Situasi itu berlangsung hampir setengah tahun.

“Waktu itu kami bercanda, bisa jadi orang (sukses) tidak ya sekolah begini?” katanya.

Sejak kecil, Helmi terbiasa berjalan kaki ke sekolah.

Saat TK dan SD, jarak sekolah hanya sekitar lima menit dari rumah. Ketika SMP, waktu tempuhnya sekitar 20 menit.

"Waktu SMA lebih jauh lagi, jalan kaki 30 menit. Di sana kampungnya tidak terlalu besar, jadi memang biasa jalan kaki ke sekolah," kenangnya.

Aktif Berorganisasi Sejak Sekolah

Selain belajar, Helmi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di sekolah.

Ia bergabung dalam OSIS, terlibat dalam kegiatan keagamaan, hingga beberapa kali ikut dalam kegiatan paskibra tingkat kampung.

Saat itu, aktivitas tersebut dijalaninya seperti kebanyakan pelajar lainnya.

Ia tidak pernah berpikir pengalaman berorganisasi itu akan membawa manfaat besar di kemudian hari.

"Dulu ya ikut-ikut saja. OSIS ikut, kegiatan keagamaan ikut, paskibra juga pernah," ujarnya.

Belakangan, Helmi menyadari pengalaman tersebut menjadi bekal berharga ketika mulai merantau dan beraktivitas di luar kampung halamannya. 

"Dulu enggak nyangka ada manfaatnya. Ternyata setelah dijalani sampai hari ini, pengalaman berorganisasi itu sangat berguna," katanya

Mengubur Mimpi Kuliah, Merantau Mencari Kerja

Tamat SMA, Helmi sebenarnya sudah memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Namun, kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus menunda mimpi tersebut.

Sebagai anak keempat dari delapan bersaudara, ia memahami kemampuan orang tuanya yang berprofesi sebagai guru tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah dalam waktu dekat.

"Ketika berangkat ke Samarinda itu sebenarnya ada keinginan kuliah. Tapi melihat kemampuan orang tua, saya berpikir lebih baik cari kerja dulu," ujarnya.

Dengan tekad itu, Helmi merantau ke Samarinda. Ia datang tanpa koneksi, tanpa kenalan, dan tanpa jaminan pekerjaan.

Berbekal nasihat orang tua, ia mulai membuat surat lamaran kerja sebanyak-banyaknya. Menurut Helmi, saat itu orang tuanya mengingatkan agar tidak hanya bergantung pada satu peluang.

"Kalau bikin lamaran jangan satu. Kalau ditolak satu, siapa lagi yang terima?" kenangnya.

Nasihat itu ia jalankan. Sekitar 25 surat lamaran kerja dikirimkan ke berbagai instansi pemerintah maupun perusahaan swasta di Samarinda.

Tag

MORE