Arus Publik

Cerita Helmi Abdullah Merantau ke Samarinda, Kirim Puluhan Lamaran Kerja hingga Diterima 'Ngurus' Distribusi Film Bioskop

Sabtu, 30 Mei 2026 18:12

DEEPTALK - Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah, saat menjadi narasumber program DeepTalk Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Duduk di kursi Ketua DPRD Samarinda tak pernah sekalipun terlintas dalam benak Helmi Abdullah saat ia muda dulu. 

Jika ada yang mengatakan kelak ia akan menjadi orang nomor satu di parlemen Kota Samarinda, mungkin Helmi Abdullah muda akan sulit mempercayainya.

Helmi yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Samarinda itu lahir di Desa Muara Muntai Ulu, Kecamatan Kutai Kartanegara, pada 17 Juli 1971.

Di kampung halamannya inilah ia menghabiskan masa kecil hingga remajanya.

Ditemui di rumah jabatannya yang berlokasi di Jalan Siradj Salman itu, Helmi mengenang masa kecilnya puluhan tahun silam di Desa Muara Muntai Ulu.

Helmi lahir dari keluarga sederhana.

Ayahnya merupakan seorang guru, sementara ibunya tidak bekerja. Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara.

“Kalau ditanya apakah saya keturunan sultan atau ningrat, ya jauh sekali dari itu. Orang tua saya guru,” kenangnya sambil tersenyum ketika menjadi narasumber program 'DeepTalk' Arusbawah.co, Kamis (28/5/2026).

Sebagai anak guru di kampung, Helmi memahami betul arti hidup sederhana.

Penghasilan orang tua harus dibagi untuk menghidupi delapan anak. 

Kondisi ekonomi keluarganya saat itu hanya pas-pasan.

Kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi, tetapi kehidupan mereka jauh dari kemewahan, terlebih dengan delapan anak yang harus dibesarkan.

“Tapi kalau dibilang kurang, ya memang kadang kurang juga. Apalagi saya delapan bersaudara dan saya anak keempat,” ujarnya.

Masa kecilnya berjalan seperti anak kampung pada umumnya.

Bermain bersama teman sebaya, membantu orang tua, dan menempuh pendidikan di kampung halaman.

Helmi mengawali pendidikan formalnya di Taman Kanak-Kanak (TK) sebelum melanjutkan ke Madrasah Ibtidaiyah di Muara Muntai selama enam tahun.

Setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah, Helmi melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Muara Muntai, satu-satunya SMP negeri yang ada saat itu.

Usai menamatkan pendidikan dasar, Helmi melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Muara Muntai, satu-satunya sekolah menengah pertama negeri yang ada di wilayah tersebut saat itu.

Tiga tahun kemudian, ia diterima di SMA Negeri pertama yang baru berdiri di Muara Muntai sekitar tahun 1987. Helmi menjadi angkatan pertama sekolah tersebut.

Namun menjadi angkatan pertama ternyata bukan perkara mudah.

Ketika sekolah baru dibuka, jumlah guru sangat terbatas. Bahkan pada masa awal operasional, sekolah hanya memiliki kepala tata usaha.

Akibatnya, aktivitas belajar mengajar nyaris tidak berjalan normal.

“Kami sampai menjuluki sekolah itu SMA 89. Masuk jam delapan pagi, pulang jam sembilan,” kenangnya sembari tertawa.

Kala itu, siswa hanya menerima tugas lalu dipersilakan pulang karena belum ada guru yang mengajar secara tetap.

Situasi itu berlangsung hampir setengah tahun.

“Waktu itu kami bercanda, bisa jadi orang (sukses) tidak ya sekolah begini?” katanya.

Sejak kecil, Helmi terbiasa berjalan kaki ke sekolah.

Saat TK dan SD, jarak sekolah hanya sekitar lima menit dari rumah. Ketika SMP, waktu tempuhnya sekitar 20 menit.

"Waktu SMA lebih jauh lagi, jalan kaki 30 menit. Di sana kampungnya tidak terlalu besar, jadi memang biasa jalan kaki ke sekolah," kenangnya.

Aktif Berorganisasi Sejak Sekolah

Selain belajar, Helmi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di sekolah.

Ia bergabung dalam OSIS, terlibat dalam kegiatan keagamaan, hingga beberapa kali ikut dalam kegiatan paskibra tingkat kampung.

Saat itu, aktivitas tersebut dijalaninya seperti kebanyakan pelajar lainnya.

Ia tidak pernah berpikir pengalaman berorganisasi itu akan membawa manfaat besar di kemudian hari.

"Dulu ya ikut-ikut saja. OSIS ikut, kegiatan keagamaan ikut, paskibra juga pernah," ujarnya.

Belakangan, Helmi menyadari pengalaman tersebut menjadi bekal berharga ketika mulai merantau dan beraktivitas di luar kampung halamannya. 

"Dulu enggak nyangka ada manfaatnya. Ternyata setelah dijalani sampai hari ini, pengalaman berorganisasi itu sangat berguna," katanya

Mengubur Mimpi Kuliah, Merantau Mencari Kerja

Tamat SMA, Helmi sebenarnya sudah memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Namun, kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus menunda mimpi tersebut.

Sebagai anak keempat dari delapan bersaudara, ia memahami kemampuan orang tuanya yang berprofesi sebagai guru tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah dalam waktu dekat.

"Ketika berangkat ke Samarinda itu sebenarnya ada keinginan kuliah. Tapi melihat kemampuan orang tua, saya berpikir lebih baik cari kerja dulu," ujarnya.

Dengan tekad itu, Helmi merantau ke Samarinda. Ia datang tanpa koneksi, tanpa kenalan, dan tanpa jaminan pekerjaan.

Berbekal nasihat orang tua, ia mulai membuat surat lamaran kerja sebanyak-banyaknya. Menurut Helmi, saat itu orang tuanya mengingatkan agar tidak hanya bergantung pada satu peluang.

"Kalau bikin lamaran jangan satu. Kalau ditolak satu, siapa lagi yang terima?" kenangnya.

Nasihat itu ia jalankan. Sekitar 25 surat lamaran kerja dikirimkan ke berbagai instansi pemerintah maupun perusahaan swasta di Samarinda.

Mulai dari tenaga honorer hingga perusahaan-perusahaan yang saat itu sedang berkembang di Kalimantan Timur.

"Ngelamar tenaga honor pemerintahan, ke swasta juga, sebanyak-banyaknya pokoknya," ungkapnya.

Sebulan berlalu, usahanya membuahkan hasil.

Helmi mendapat panggilan kerja dari PT Samalo, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi perfilman dan sejumlah produk lainnya.

Gaji Rp100 Ribu dan Tekad Menjadi Sarjana

Di perusahaan tersebut, Helmi ditempatkan di bagian distribusi film bioskop. Tugasnya mengurus penyewaan rol film ke sejumlah bioskop di Samarinda.

Saat itu, bioskop seperti Mahakam, Parahyangan, Kaltim Theater, hingga Wisma Citra masih menjadi pusat hiburan masyarakat di Samarinda.

"Itu pekerjaan pertama saya. Ngurus distribusi film bioskop," ujarnya.

Pada tahun 1990, ia menerima gaji sekitar Rp100 ribu per bulan. Dengan penghasilan itu, Helmi menjalani kehidupan perantau di Samarinda sambil tinggal di rumah tantenya.

"Itu gaji saya waktu itu sekitar Rp100 ribu sebulan," katanya.

Meski sudah bekerja, keinginan untuk kuliah tak pernah benar-benar hilang.

Setelah memiliki penghasilan sendiri, ia mulai mencari kampus yang memungkinkan dirinya tetap bekerja pada siang hari.

Universitas Mulawarman sempat menjadi pilihan. Namun jadwal kuliah yang berlangsung pagi hingga siang hari membuatnya sulit membagi waktu dengan pekerjaan.

"Nah, waktu di Unmul enggak bisa sudah karena waktu itu di Unmul itu kan harus kuliahnya kan pagi, nggak mungkin bisa," ucapnya.

Akhirnya, Helmi menemukan dua perguruan tinggi yang menyediakan kelas sore dan malam, yakni Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda dan Universitas Widyagama Mahakam.

Dari dua pilihan tersebut, ia menjatuhkan pilihan ke Universitas Widyagama Mahakam karena biaya kuliahnya lebih terjangkau.

"Waktu itu per semesternya Rp15.000. Cukup lah dengan gaji Rp100 ribu kan waktu itu," ujarnya.

Sejak saat itu, rutinitasnya berubah. Pagi hingga sore bekerja, malam hari mengikuti perkuliahan. Seluruh biaya pendidikan dibayarnya sendiri dari hasil bekerja.

"Pagi sampai jam 5 sore kerja. Malam kuliah. Jadi Berat memang, tapi saya jalani saja," katanya.

Keputusan tersebut menjadi langkah awal yang membuka jalan bagi perjalanan hidupnya di Samarinda.

Dari seorang perantau yang datang untuk mencari pekerjaan, Helmi perlahan membangun pendidikan, pengalaman organisasi, dan karier yang kemudian membawanya hingga dipercaya memimpin DPRD Samarinda saat ini. (raf)

 

Tag

MORE