ARUSBAWAH.CO - Duduk di kursi Ketua DPRD Samarinda tak pernah sekalipun terlintas dalam benak Helmi Abdullah saat ia muda dulu.
Jika ada yang mengatakan kelak ia akan menjadi orang nomor satu di parlemen Kota Samarinda, mungkin Helmi Abdullah muda akan sulit mempercayainya.
Helmi yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Samarinda itu lahir di Desa Muara Muntai Ulu, Kecamatan Kutai Kartanegara, pada 17 Juli 1971.
Di kampung halamannya inilah ia menghabiskan masa kecil hingga remajanya.
Ditemui di rumah jabatannya yang berlokasi di Jalan Siradj Salman itu, Helmi mengenang masa kecilnya puluhan tahun silam di Desa Muara Muntai Ulu.
Helmi lahir dari keluarga sederhana.
Ayahnya merupakan seorang guru, sementara ibunya tidak bekerja. Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara.
“Kalau ditanya apakah saya keturunan sultan atau ningrat, ya jauh sekali dari itu. Orang tua saya guru,” kenangnya sambil tersenyum ketika menjadi narasumber program 'DeepTalk' Arusbawah.co, Kamis (28/5/2026).
Sebagai anak guru di kampung, Helmi memahami betul arti hidup sederhana.
Penghasilan orang tua harus dibagi untuk menghidupi delapan anak.
Kondisi ekonomi keluarganya saat itu hanya pas-pasan.
Kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi, tetapi kehidupan mereka jauh dari kemewahan, terlebih dengan delapan anak yang harus dibesarkan.
“Tapi kalau dibilang kurang, ya memang kadang kurang juga. Apalagi saya delapan bersaudara dan saya anak keempat,” ujarnya.
Masa kecilnya berjalan seperti anak kampung pada umumnya.
Bermain bersama teman sebaya, membantu orang tua, dan menempuh pendidikan di kampung halaman.
Helmi mengawali pendidikan formalnya di Taman Kanak-Kanak (TK) sebelum melanjutkan ke Madrasah Ibtidaiyah di Muara Muntai selama enam tahun.
Setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah, Helmi melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Muara Muntai, satu-satunya SMP negeri yang ada saat itu.
Usai menamatkan pendidikan dasar, Helmi melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Muara Muntai, satu-satunya sekolah menengah pertama negeri yang ada di wilayah tersebut saat itu.
Tiga tahun kemudian, ia diterima di SMA Negeri pertama yang baru berdiri di Muara Muntai sekitar tahun 1987. Helmi menjadi angkatan pertama sekolah tersebut.
Namun menjadi angkatan pertama ternyata bukan perkara mudah.
Ketika sekolah baru dibuka, jumlah guru sangat terbatas. Bahkan pada masa awal operasional, sekolah hanya memiliki kepala tata usaha.
Akibatnya, aktivitas belajar mengajar nyaris tidak berjalan normal.
“Kami sampai menjuluki sekolah itu SMA 89. Masuk jam delapan pagi, pulang jam sembilan,” kenangnya sembari tertawa.
Tag



