Arus Publik

Benarkah PLTA Mentarang Malinau Rendah Karbon? Simak Fakta di Balik Proyek Raksasa Digroundbreaking Jokowi

Mengenal Proyek PLTA Mentarang Induk di Malinau

Rabu, 21 Januari 2026 21:2

Ilustrasi gambar bendungan yang memicu emisi/Ilustrasi oleh tim AI Arusbawah.co

Inilah yang disebut emisi tersembunyi PLTA, karena sering tidak dihitung dalam kebijakan energi nasional.

Meski metana hanya bertahan sekitar 10 tahun di atmosfer, dalam 20 tahun pertama dampaknya terhadap pemanasan global hampir tiga kali lebih besar dibanding CO₂, yang justru bisa bertahan ratusan tahun.

Kritik IPCC dan Fakta Lapangan

Pada tahun 2011, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) lembaga ilmiah PBB yang membahas perubahan iklim pernah menyebut PLTA sebagai pilihan terbaik energi terbarukan.

Namun, kesimpulan ini banyak dikritik karena mengabaikan banyak riset ilmiah yang sudah membuktikan bahwa bendungan juga menghasilkan emisi CO₂ dan metana.

Contoh nyata datang dari Bendungan Petit Saut di Guyana Prancis.

Studi jangka panjang menunjukkan, selama 20 tahun, sejak dibangun hingga beroperasi, bendungan ini menghasilkan emisi 14.782 gram CO₂e per kWh.

CO₂e (karbon dioksida ekuivalen) adalah satuan untuk menghitung semua jenis gas rumah kaca dalam satu ukuran.

Sebagai perbandingan, pembangkit listrik berbahan gas alam hanya menghasilkan 1.147 gram CO₂e per kWh, atau sekitar 14 kali lebih rendah.

Kredit Karbon dan Konflik Sosial

Ironisnya, meski menghasilkan emisi besar, industri PLTA justru mendapat keuntungan dari kredit karbon, yaitu skema jual beli klaim pengurangan emisi.

Banyak peneliti menyebut skema ini sebagai penipuan iklim.

Contohnya adalah PLTA Jirau di Brasil, yang menghasilkan keuntungan tambahan hingga USD 1 miliar dari kredit karbon untuk operatornya, perusahaan Prancis GDF Suez.

Proyek ini juga memicu konflik sosial serius, termasuk pembunuhan aktivis lingkungan Nilce de Souza Magalhães, tokoh gerakan warga yang terdampak pembangunan bendungan.

Rendah Karbon Versi Siapa?

Dengan menenggelamkan puluhan ribu hektare hutan dan sungai, menghasilkan emisi metana dalam jumlah besar, serta listriknya diarahkan untuk industri, klaim rendah karbon PLTA Mentarang Induk semakin layak dipertanyakan.

Bagi warga Kabupaten Malinau, proyek ini bukan sekadar soal listrik.

Ini soal hilangnya ruang hidup, rusaknya sungai, dan masa depan lingkungan yang dikorbankan atas nama industri yang disebut hijau.

(wan)

 

Tag

MORE