Namun cerita dari orang tua dan tokoh adat di kampungnya menggambarkan penolakan keras terhadap sawit dan proyek pembukaan lahan.
“Orang tua di sana hidup dari kebun, hasil tani, hasil laut. Semua dari alam. Jadi mereka tidak mau tanahnya rusak,” ujarnya.
Mahasiswi Papua Pegunungan Sebut Konflik Militer Masih Terjadi
Lince juga menyebut konflik di Papua Pegunungan berbeda dengan yang ditampilkan dalam film karena wilayahnya lebih banyak berhadapan dengan persoalan militer.
“Kalau di tempat saya, lebih banyak konflik militer,” katanya.
Film Pesta Babi Sempat Dihentikan di Sejumlah Daerah
Film Pesta Babi sendiri menarik perhatian publik dalam beberapa pekan terakhir.
Selain mengangkat isu masyarakat adat dan proyek pembangunan di Papua, sejumlah agenda pemutaran film itu juga dikabarkan sempat dihentikan di beberapa daerah seperti Ternate, UIN Mataram, Universitas Mataram, hingga Universitas Pendidikan Mandalika.
Nama Pesta Babi diambil dari tradisi penting masyarakat Papua yang identik dengan kehormatan, persaudaraan, dan kebersamaan.
Namun dalam film ini, simbol tersebut dipakai untuk menggambarkan hubungan erat masyarakat adat dengan tanah dan alam mereka yang kini dinilai mulai terancam.
Film Pesta Babi Dinilai Jadi Suara Masyarakat Papua
Bagi Nikolaus dan Lince, film itu bukan sekadar dokumenter politik atau lingkungan.
Film tersebut dianggap menjadi suara yang selama ini sulit disampaikan langsung oleh masyarakat kecil di Papua.
“Yang ditonton orang hari ini, bagi kami itu kenyataan yang sudah lama terjadi,” demikian kata Nikolaus.
(wan)
Tag



