Arus Publik

'Bagi Kami Ini Bukan Hal Baru': Dua Mahasiswa Papua di Unmul Bicara Luka Tanah Adat usai Nobar Film Pesta Babi

Lebih 300 Mahasiswa Hadiri Nobar Film Pesta Babi di Fisip Unmul

Sabtu, 16 Mei 2026 22:20

WAWANCARA - Dua Mahasiswa Unmul asal provinsi Papua yakni Nikolaus Yeblo dan Lince bicara soal konflik Papua usai Nobar film Pesta Babi/Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Mulawarman (Unmul), Jumat (15/5/2026), bukan sekadar agenda nonton bareng biasa.

Di tengah lebih dari 300 mahasiswa yang memadati lokasi pemutaran, diskusi film itu justru berubah menjadi ruang kesaksian dua mahasiswa asal Papua yang merasa cerita dalam film tersebut bukan lagi tontonan, melainkan kenyataan yang mereka alami sendiri.

Dua mahasiswa itu, Nikolaus Yeblo dan Lince, berbicara terbuka kepada redaksi Arusbawah.co konflik tanah adat, ekspansi sawit, hingga masuknya perusahaan besar ke wilayah Papua.

“Kalau bagi saya sendiri orang Papua, hal ini sudah biasa,” kata Nikolaus Yeblo, mahasiswa asal Papua Barat Daya kepada wartawan.

“Saya pernah berada di posisi itu,” lanjutnya.

Film Pesta Babi Soroti Proyek PSN dan Hilangnya Hutan Adat di Papua

Film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale tersebut memang menyoroti dampak ekspansi industri dan proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan.

Selama sekitar 90 menit, film itu menggambarkan bagaimana hutan adat perlahan hilang, pangan tradisional terancam, hingga ruang hidup masyarakat adat terus terdesak proyek pangan dan energi berskala besar.

Wilayah seperti Merauke, Boven Digoel, dan Mappi menjadi latar utama cerita.

Penonton diperlihatkan kedatangan kapal-kapal pembawa alat berat untuk mendukung proyek bioetanol tebu dan biodiesel sawit yang disebut sebagai bagian dari agenda ketahanan pangan nasional.

Nikolaus Yeblo Sebut Konflik Papua dalam Film Baru Sebagian Kecil

Namun bagi Nikolaus, konflik yang ditampilkan dalam film itu baru sebagian kecil dari persoalan Papua.

“Kalau dikatakan mewakili, iya, tapi baru sebagian. Papua sekarang sudah dibagi jadi enam provinsi. Ini baru Papua Selatan. Belum lagi wilayah lain dengan masalah berbeda-beda,” ujarnya.

Menurut dia, persoalan di Papua bukan hanya soal lingkungan.

Ada isu kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sampai konflik militer yang menurutnya masih terus terjadi.

Nikolaus bahkan mengaku situasi serupa mulai dirasakan di wilayah asalnya di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.

Ia menyebut ada isu pembukaan lahan sawit yang mulai masuk ke wilayah adat masyarakat setempat.

“Teman-teman di sana masih melakukan penolakan. Biasanya perusahaan masuk tidak langsung terbuka. Ada proses panjang,” katanya.

Nikolaus Singgung Pola Adu Domba sebelum Perusahaan Masuk

Ia lalu menyinggung pola yang menurutnya kerap muncul sebelum perusahaan masuk ke wilayah adat.

“Salah satu konsep yang sering terjadi itu adu domba masyarakat dulu. Masyarakat dibenturkan, persatuan dilemahkan, baru perusahaan masuk,” ujarnya.

Menurut Nikolaus, situasi itu sering diikuti alasan pengamanan yang melibatkan aparat keamanan.

“Alasannya pengamanan. Tapi sebenarnya perusahaan bisa masuk,” katanya.

Lince: Masyarakat Papua Hidup dari Alam

Di sisi lain, Lince, mahasiswi asal Papua Pegunungan, juga mengaku film tersebut sangat dekat dengan cerita yang selama ini ia dengar dari keluarga dan masyarakat adat di kampung halamannya.

“Film ini sangat menceritakan tentang Papua yang benar-benar terjadi di Papua,” ujarnya.

Menurut Lince, masyarakat Papua hidup bergantung pada alam.

Karena itu, pembukaan lahan skala besar dianggap mengancam kehidupan warga lokal.

“Kita hidup dengan alam. Tapi dengan masuknya perusahaan asing, menggusur hutan, kita bingung cari makan di mana,” katanya.

Ia mengaku tumbuh besar di kota.

Namun cerita dari orang tua dan tokoh adat di kampungnya menggambarkan penolakan keras terhadap sawit dan proyek pembukaan lahan.

“Orang tua di sana hidup dari kebun, hasil tani, hasil laut. Semua dari alam. Jadi mereka tidak mau tanahnya rusak,” ujarnya.

Mahasiswi Papua Pegunungan Sebut Konflik Militer Masih Terjadi

Lince juga menyebut konflik di Papua Pegunungan berbeda dengan yang ditampilkan dalam film karena wilayahnya lebih banyak berhadapan dengan persoalan militer.

“Kalau di tempat saya, lebih banyak konflik militer,” katanya.

Film Pesta Babi Sempat Dihentikan di Sejumlah Daerah

Film Pesta Babi sendiri menarik perhatian publik dalam beberapa pekan terakhir.

Selain mengangkat isu masyarakat adat dan proyek pembangunan di Papua, sejumlah agenda pemutaran film itu juga dikabarkan sempat dihentikan di beberapa daerah seperti Ternate, UIN Mataram, Universitas Mataram, hingga Universitas Pendidikan Mandalika.

Nama Pesta Babi diambil dari tradisi penting masyarakat Papua yang identik dengan kehormatan, persaudaraan, dan kebersamaan.

Namun dalam film ini, simbol tersebut dipakai untuk menggambarkan hubungan erat masyarakat adat dengan tanah dan alam mereka yang kini dinilai mulai terancam.

Film Pesta Babi Dinilai Jadi Suara Masyarakat Papua

Bagi Nikolaus dan Lince, film itu bukan sekadar dokumenter politik atau lingkungan.

Film tersebut dianggap menjadi suara yang selama ini sulit disampaikan langsung oleh masyarakat kecil di Papua.

“Yang ditonton orang hari ini, bagi kami itu kenyataan yang sudah lama terjadi,” demikian kata Nikolaus.

(wan)

Tag

MORE