Nikolaus bahkan mengaku situasi serupa mulai dirasakan di wilayah asalnya di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Ia menyebut ada isu pembukaan lahan sawit yang mulai masuk ke wilayah adat masyarakat setempat.
“Teman-teman di sana masih melakukan penolakan. Biasanya perusahaan masuk tidak langsung terbuka. Ada proses panjang,” katanya.
Nikolaus Singgung Pola Adu Domba sebelum Perusahaan Masuk
Ia lalu menyinggung pola yang menurutnya kerap muncul sebelum perusahaan masuk ke wilayah adat.
“Salah satu konsep yang sering terjadi itu adu domba masyarakat dulu. Masyarakat dibenturkan, persatuan dilemahkan, baru perusahaan masuk,” ujarnya.
Menurut Nikolaus, situasi itu sering diikuti alasan pengamanan yang melibatkan aparat keamanan.
“Alasannya pengamanan. Tapi sebenarnya perusahaan bisa masuk,” katanya.
Lince: Masyarakat Papua Hidup dari Alam
Di sisi lain, Lince, mahasiswi asal Papua Pegunungan, juga mengaku film tersebut sangat dekat dengan cerita yang selama ini ia dengar dari keluarga dan masyarakat adat di kampung halamannya.
“Film ini sangat menceritakan tentang Papua yang benar-benar terjadi di Papua,” ujarnya.
Menurut Lince, masyarakat Papua hidup bergantung pada alam.
Karena itu, pembukaan lahan skala besar dianggap mengancam kehidupan warga lokal.
“Kita hidup dengan alam. Tapi dengan masuknya perusahaan asing, menggusur hutan, kita bingung cari makan di mana,” katanya.
Ia mengaku tumbuh besar di kota.
Tag



