Arus Publik

Indonesia Terancam Kehilangan Pengetahuan Adat yang Selama Ratusan Tahun Menjaga Alam, WGII Ingatkan Krisis Biokultural

ILUSTRASI - Working Group ICCAs Indonesia (WGII) mengingatkan bahwa Indonesia tidak hanya menghadapi ancaman hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga krisis biokultural yang dapat menghapus peradaban yang selama ratusan tahun menjadi dasar Masyarakat Adat dalam menjaga alam/ Pexels tomfisk

ARUSBAWAH.CO -  Indonesia dinilai tidak hanya menghadapi ancaman hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga krisis biokultural yang berpotensi menghapus pengetahuan, bahasa, ritual, dan praktik adat yang selama ratusan tahun menjadi fondasi masyarakat dalam menjaga alam.

Peringatan tersebut disampaikan Working Group ICCAs Indonesia (WGII) menjelang Konferensi Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa (CBD COP17) yang akan digelar di Armenia pada Oktober 2026.

Koordinator Eksekutif WGII, Cindy Julianty, mengatakan ancaman terhadap warisan biokultural bahkan lebih rentan dibandingkan hilangnya biodiversitas.

"Biokultural ini lebih rentan hilang daripada biodiversitas. Karena yang terancam hilang bukan hanya spesies atau hutan, melainkan seluruh relasi yang membuat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut saling terhubung," ujar Cindy dalam keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).

Menurutnya, Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas karena memiliki hutan, savana, pesisir, perairan, serta berbagai spesies endemik.

Namun, Indonesia juga merupakan negara megabiokultural karena memiliki hubungan panjang antara manusia dan alam yang diwariskan lintas generasi.

Cindy menjelaskan, konsep megabiodiversitas selama ini lebih banyak menyoroti aspek fisik yang dapat dihitung, sementara hubungan antara manusia, budaya, dan alam sering kali terabaikan.

"Ada keterkaitan antara alam dan budaya, antara alam dan manusia. Ketika bicara soal biokultural, berarti kita bicara tentang relasi, bahasa, praktik, spiritualitas, dan lanskap yang lebih besar," katanya.

Alam Berisiko Dipandang Hanya Sebagai Komoditas

WGII menilai hilangnya keterhubungan manusia dengan alam akan mengubah cara pandang masyarakat terhadap lingkungan.

Ketika alam hanya dianggap sebagai sumber daya ekonomi, eksploitasi dan kerusakan lingkungan menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.

Tag

MORE