Feature

Untuk-untuk Rp2.000, Rasa dan Sejarah yang Hidup di Samarinda

Sejarah 40 tahun di balik gorengan untuk-untuk

Kamis, 2 April 2026 21:59

Acil Nurasihkin dan rombong Aneka Kue Nurbayah, ikon kuliner malam Samarinda sejak 1987/Foto: (AB)

ARUSBAWAH.CO -  Di bawah bayang-bayang raksasa beton Flyover, ada sebuah aroma yang melawan debu jalanan Jalan A. Wahab Syahranie.

Aroma itu manis, gurih, dan hangat sebuah kontradiksi di tengah bisingnya deru mesin kendaraan Kota Samarinda yang tak pernah tidur.

Di sana, di balik etalase kaca yang berpendar terang, Acil Nurasihkin berdiri dengan senyum tipis.

Malam itu, Rabu (1/4), ia tidak sekadar menggoreng adonan; ia sedang merawat sebuah sejarah yang telah berusia hampir 40 tahun.

Melawan Lupa: Resep yang Menolak Punah

Bagi sebagian orang, Untuk-untuk mungkin hanyalah roti goreng isi kacang atau kelapa.

Namun bagi Nurasihkin, setiap butir kue seharga Rp2.000 itu adalah nafas keluarganya.

Cerita ini bermula pada tahun 1987, saat Samarinda masih jauh dari kata macet.

Bersama sang ibu, Nurasihkin remaja menjajakan gorengan di emperan Perpustakaan Daerah.

"Mama saya jualan dari tahun '87. Saya besar di sana, belajar dari sana," kenang wanita yang malam itu tampil bersahaja dengan penutup kepala berpola.

Nama Aneka Kue Nurbayah yang terpampang di spanduk rombongnya bukan sekadar merek.

Ia adalah identitas yang dipaksa menjadi nomaden oleh deru pembangunan kota.

Sebelum menetap di bawah flyover pada 2012, Nurasihkin harus berkali-kali melipat stannya karena lokasi berjualannya tergusur proyek pembangunan.

Namun, alih-alih menyerah, ia justru menemukan takdirnya di bawah kolong jembatan layang ini.

 

Anomali Malam di Kota Tepian

Di saat pedagang untuk-untuk lain memilih menyapa fajar, Nurasihkin justru memilih bersekutu dengan malam.

Ia baru mulai memanaskan minyak pada pukul 15.45 WITA dan bertahan hingga nyaris tengah malam.

"Orang Samarinda itu senangnya belanja malam. Saya coba tawarkan yang hangat di saat udara mulai dingin, alhamdulillah cocok," jelasnya.

Strategi ini membuahkan hasil yang fantastis.

Tak kurang dari 25 kilogram adonan ludes setiap harinya.

Rombongnya menjadi semacam mercusuar bagi para pelintas yang lapar di tengah malam.

Meski permintaan membludak, Nurasihkin memilih untuk tetap membumi.

Ia sempat mencoba peruntungan dengan roti gembong yang sedang tren, namun tubuhnya protes.

"Sudah tidak sanggup, capek. Fokus di sini saja (untuk-untuk) sudah luar biasa tenaganya," akunya jujur.

Baginya, konsistensi jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar tren sesaat.

Harapan di Balik Penggorengan

Kini, di usianya yang tak lagi muda, Nurasihkin dibantu oleh suami dan anak keduanya.

Ia tidak muluk-muluk.

Ia hanya berharap anak-anaknya memiliki satu hal: kesabaran.

Baginya, membangun nama besar seperti Nurbayah tidak butuh promosi gila-gilaan, melainkan ketulusan untuk tetap hadir di tempat yang sama, setiap hari, selama puluhan tahun.
Di bawah lampu jalanan yang remang, Acil Nurasihkin adalah bukti hidup bahwa di tengah modernitas Samarinda yang kian angkuh, ada kehangatan tradisi yang menolak untuk padam.

Untuk-untuknya bukan sekadar camilan, ia adalah memori kolektif warga kota yang terus digoreng dalam kuali sejarah yang sama sejak 1987. (Gasela Todotepon Moron)

 

Tag

MORE