Feature

Tiga Generasi Menjaga Manisnya Wadai Talam di Jalan Biawan Samarinda

Tradisi wadai Talam yang tak pernah sepi peminat

Minggu, 22 Februari 2026 14:13

MENJAGA WARISAN - Penjual wadai talam di Jalan Biawan, Samarinda. (Arusbawah.co)

Dulu, lapaknya berpindah-pindah di sekitar Biawan sebelum akhirnya menetap.

Kini, keluarganya lebih fokus memproduksi wadai talam, sementara jenis kue lain merupakan titipan warga sekitar.

Proses Produksi dan Omzet Selama Ramadan

Selama Ramadan, aktivitas dapur dimulai sejak pukul 08.00 pagi.

Santan menjadi bahan pertama yang diolah hingga terpisah antara bagian kental dan cair.

“Yang kental itu buat adonan atas,” jelas Nuri.

Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan satu karung gula dan lima dus tepung beras, belum termasuk ketan dan margarin.

Dibantu empat karyawan, produksi berjalan hingga menjelang siang.

Satu loyang dipotong sekitar 13 bagian dan dijual Rp15 ribu per potong. Pada awal Ramadan, penjualan bisa mencapai 20 loyang per hari.

Dalam sebulan, omzetnya bisa menyentuh Rp60–70 juta dengan modal sekitar Rp20 juta.

“Resepnya sudah turun-temurun dari mamak, nenek,” ucapnya.

 

Jejak Usaha Ical: Dari Citra Niaga ke Biawan

Cerita serupa datang dari Ical (27). Usaha yang ia kelola merupakan warisan neneknya yang sudah berjualan selama 24 tahun.

Perjalanan mereka dimulai dari era Pasar Citra Niaga pada 1980-an, sempat pindah ke GOR Segiri, lalu menetap di Biawan sejak 2010.

Tag

MORE