Arus Terkini

Terungkap Sisi Lain Kehidupan WH, Ayah yang Habisi Dua Anak Kandung: Dari Sakit, Istri Minta Cerai, hingga Coba Bunuh Diri

Tragedi di Samarinda: Dua Balita Tewas di Tangan Ayah Kandung

Selasa, 29 Juli 2025 19:49

TKP - TKP pembunuhan 2 balita oleh ayah kandung di Samarinda masih dipasang garis polisi/HO

Pandangan Psikolog: Ini Termasuk Filicide, Harus Ada Pemeriksaan Kejiwaan

Dikonfirmasi terpisah, Dosen Psikologi Universitas Mulawarman, Ayunda Ramadhani, menyebut fenomena pembunuhan anak oleh orang tua kandung dikenal dalam psikologi sebagai filicide. 

“Kasus seperti ini tidak sekali terjadi di Indonesia. Namun saat terjadi di lingkungan kita, seperti di Samarinda, rasanya jauh lebih mengerikan karena terasa dekat,” ujar Ayunda saat dihubungi melalui telpon oleh wartawan Arusbawah.co, pada Selasa (29/7) sore.

Ayunda menjelaskan, faktor pemicu bisa bermacam-macam, seperti tekanan lingkungan, kepribadian, dan gangguan jiwa.

“Dari keterangan keluarga, WH mengalami stres karena sakit, kehilangan pekerjaan, dan cekcok rumah tangga. Semua itu bisa memicu akumulasi stres berat,” jelasnya.

Ketidakmatangan Usia Perkawinan Juga Jadi Faktor

Ayunda juga menyoroti faktor usia dan ketidakmatangan emosional.

“Bisa jadi peran suami sebagai pencari nafkah terganggu. Ketika identitas dan harga dirinya runtuh, konflik pun meningkat, dan tanpa kemampuan manajemen emosi yang baik, agresi bisa muncul,” ucap Ayunda.

Ayunda menekankan pentingnya memeriksa kondisi kejiwaan pelaku, termasuk kemungkinan pengaruh alkohol atau narkotika.

“Kalau memang pelaku mengalami gangguan psikologis berat, kemampuan mengenali realita bisa terganggu. Harusnya seseorang sadar bahwa itu anak kandungnya. Tapi kalau persepsinya sudah rusak, maka bisa terjadi tindakan di luar nalar,” katanya.

Pentingnya Deteksi Dini Masalah Mental dalam Keluarga

Ayunda mengimbau masyarakat lebih peka terhadap perubahan perilaku orang terdekat.

“Kalau tetangga dengar ada rumah tangga sering ribut, jangan diam. Peduli itu bukan ikut campur, tapi upaya menyelamatkan,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar masyarakat mau menggunakan layanan konseling yang kini bisa diakses gratis dan rahasia.

“Kita perlu membangun budaya waspada dan empati. Jangan tunggu sampai ada korban jiwa,” kata Ayunda.

Sebagai penutup, Ayunda menegaskan bahwa anak tidak seharusnya menjadi pelampiasan tekanan hidup orang tua.

“Anak-anak tidak berdosa. Mereka tidak tahu apa-apa. Kalau orang tua merasa tidak mampu mengatasi masalah, bicaralah, cari bantuan. Jangan simpan sendiri sampai meledak seperti ini,” pungkasnya.

(wan)

 

 

Tag

MORE