Pandangan Psikolog: Ini Termasuk Filicide, Harus Ada Pemeriksaan Kejiwaan
Dikonfirmasi terpisah, Dosen Psikologi Universitas Mulawarman, Ayunda Ramadhani, menyebut fenomena pembunuhan anak oleh orang tua kandung dikenal dalam psikologi sebagai filicide.
“Kasus seperti ini tidak sekali terjadi di Indonesia. Namun saat terjadi di lingkungan kita, seperti di Samarinda, rasanya jauh lebih mengerikan karena terasa dekat,” ujar Ayunda saat dihubungi melalui telpon oleh wartawan Arusbawah.co, pada Selasa (29/7) sore.
Ayunda menjelaskan, faktor pemicu bisa bermacam-macam, seperti tekanan lingkungan, kepribadian, dan gangguan jiwa.
“Dari keterangan keluarga, WH mengalami stres karena sakit, kehilangan pekerjaan, dan cekcok rumah tangga. Semua itu bisa memicu akumulasi stres berat,” jelasnya.
Ketidakmatangan Usia Perkawinan Juga Jadi Faktor
Ayunda juga menyoroti faktor usia dan ketidakmatangan emosional.
“Bisa jadi peran suami sebagai pencari nafkah terganggu. Ketika identitas dan harga dirinya runtuh, konflik pun meningkat, dan tanpa kemampuan manajemen emosi yang baik, agresi bisa muncul,” ucap Ayunda.
Ayunda menekankan pentingnya memeriksa kondisi kejiwaan pelaku, termasuk kemungkinan pengaruh alkohol atau narkotika.
“Kalau memang pelaku mengalami gangguan psikologis berat, kemampuan mengenali realita bisa terganggu. Harusnya seseorang sadar bahwa itu anak kandungnya. Tapi kalau persepsinya sudah rusak, maka bisa terjadi tindakan di luar nalar,” katanya.
Pentingnya Deteksi Dini Masalah Mental dalam Keluarga
Ayunda mengimbau masyarakat lebih peka terhadap perubahan perilaku orang terdekat.
“Kalau tetangga dengar ada rumah tangga sering ribut, jangan diam. Peduli itu bukan ikut campur, tapi upaya menyelamatkan,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar masyarakat mau menggunakan layanan konseling yang kini bisa diakses gratis dan rahasia.
“Kita perlu membangun budaya waspada dan empati. Jangan tunggu sampai ada korban jiwa,” kata Ayunda.
Sebagai penutup, Ayunda menegaskan bahwa anak tidak seharusnya menjadi pelampiasan tekanan hidup orang tua.
“Anak-anak tidak berdosa. Mereka tidak tahu apa-apa. Kalau orang tua merasa tidak mampu mengatasi masalah, bicaralah, cari bantuan. Jangan simpan sendiri sampai meledak seperti ini,” pungkasnya.
(wan)
- Lengah Bertahun-Tahun, Tambang Ilegal di IKN Terbongkar—Publik Soroti Mandulnya Pengawasan Negara
- Janji Seragam Gratispol Rudy Mas’ud Tak Semua Siswa Dapat di 2025, Kadisdikbud: Boleh Pinjam Seragam Kakaknya
- 103 Kontainer di Balikpapan Disita Polisi, Barang Bukti Tambang Ilegal di Kawasan IKN! Tersangkanya Ada Tiga
Tag




