Arus Terkini

Terungkap Sisi Lain Kehidupan WH, Ayah yang Habisi Dua Anak Kandung: Dari Sakit, Istri Minta Cerai, hingga Coba Bunuh Diri

Tragedi di Samarinda: Dua Balita Tewas di Tangan Ayah Kandung

Selasa, 29 Juli 2025 19:49

TKP - TKP pembunuhan 2 balita oleh ayah kandung di Samarinda masih dipasang garis polisi/HO

ARUSBAWAH.CO -  Tragedi kemanusiaan mengguncang warga di Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda.

Dua balita, AM (4) dan MA (2), ditemukan tak bernyawa di rumah mereka sendiri. 

Pelakunya tak lain adalah ayah kandung mereka, pria berinisial WH. 

Di balik aksi keji itu, keluarga pelaku mengungkap sisi lain kehidupan WH sebelum tragedi memilukan itu terjadi.

Keluarga Ungkap Perubahan Sikap Pelaku Sebelum Tragedi

“Abang saya itu pendiam, jarang cerita, tapi sangat baik sama keluarga…”

Adik kandung pelaku, NB, menceritakan bahwa WH dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tidak banyak bicara. 

“Abang saya itu pendiam, jarang cerita, tapi baik sama keluarga. Dulu malah friendly banget sama tetangga,” ungkapnya saat ditemui  wartawan Arusbawah.co di kediamannya, pada Senin (28/7/2025).

Menurut NB, perubahan sikap WH mulai terlihat dalam sebulan terakhir. 

Ia menjadi lebih murung dan sering menyendiri di dalam rumah. 

“Dulu kerja aktif, sering sosialisasi, ramah. Tapi sejak sakit lambung dan tenggorokan, dia berhenti kerja. Dari situ mulai berubah. Kurus, pendiam, lebih banyak di kamar,” tambahnya.

Riwayat Pekerjaan dan Kondisi Kesehatan WH

WH diketahui sempat bekerja di perusahaan kayu di Samarinda, lalu pindah ke pergudangan.  

Namun, sekitar satu bulan sebelum kejadian, ia berhenti total dari pekerjaannya karena masalah kesehatan di tenggorokan dan lambung.

“Penyakit lambungnya makin parah, badannya makin kurus. Bahkan saya sendiri lihat dia seperti depresi. Bukan karena ekonomi saja, mungkin ada yang dipendam juga, iman kurang kuat,” kata NB.

Sosok Ayah Penyayang Meski Dihimpit Masalah

Selama tidak bekerja, WH dinilai tetap berusaha menjadi ayah yang perhatian. 

Ia sempat menyuapi dan memandikan kedua anaknya, sebelum kemudian mengakhiri hidup mereka dengan tangannya sendiri

“Anaknya pintar, enggak cerewet. Kalau habis makan tidur, enggak pernah rewel,” ucapnya.

Rumah Tangga Retak, Istri Sering Minta Cerai

Ditanya soal kondisi rumah tangga WH dengan istrinya, NB mengatakan hubungan mereka terkesan normal. 

“Memang sempat pisah rumah, tapi sudah balik lagi, belakangan ini istrinya selalu minta cerai,” jelasnya.

Istri WH diketahui bekerja di toko perlengkapan bayi dengan sistem shift. 

Saat sang istri bekerja, WH yang menjaga anak-anak. 

“Mereka gantian jaga anak. Tapi memang istrinya lebih banyak cerita ke keluarganya sendiri, bukan ke kami,” kata NB.

Kronologi Kejadian: Dari Dugaan Tidur hingga Tewasnya Dua Balita

NB sempat berada di rumah saat kejadian. 

Ia baru pulang sekitar pukul 4 sore dan melihat kedua balita itu tertidur lelap. 

“Mama saya yang pertama kali sadar. Waktu dikipasin, dikira tidur. Tapi pas tetangga datang, baru tahu dua-duanya sudah meninggal,” ungkapnya.

WH diduga juga sempat berusaha bunuh diri, namun digagalkan oleh nenek korban. 

“Nenek saya dicekik juga. Mungkin ketahuan pas dia mau bunuh diri, jadi nenek diserang. Tapi nenek sempat keluar dan minta tolong ke tetangga,” jelas NB. 

 

Keluarga dan Tetangga Masih Syok: “Kami Enggak Nyangka Bisa Sampai Begitu”

Keluarga besar WH sangat terpukul. 

“Bapak saya yang biasa mandiin, gendong, bahkan sempat mandiin terakhir sebelum dikubur. Dia sayang banget,” cerita NB dengan suara bergetar.

“Dia enggak kelihatan aneh. Kita juga kaget bisa sampai begitu. Namanya kejadian begini siapa yang mau,” ucapnya lirih.

“Mungkin dia pendam sendiri. Kami enggak nyangka bisa dia begitu ke anaknya sendiri. Tapi ini sudah takdir biarlah berlalu,” ujar NB menahan air mata.

Seorang warga inisial TU tinggal 8 bulan di kawasan itu mengatakan WH sangat jarang keluar rumah.

"Dulu kadang mampir pas kerja. Tapi sebulan terakhir benar-benar enggak kelihatan. Anaknya saja yang sering main sepeda, ditemani neneknya,” katanya.

Tetangga lainnya menyebut WH dan istrinya memang tidak terlalu bersosialisasi. 

“Kalau istri keluar paling beli pop ice atau mie. Suaminya pendiam banget, habis belanja di sini langsung pergi tanpa ngobrol-ngobrol dulu,” ucapnya.

Pandangan Psikolog: Ini Termasuk Filicide, Harus Ada Pemeriksaan Kejiwaan

Dikonfirmasi terpisah, Dosen Psikologi Universitas Mulawarman, Ayunda Ramadhani, menyebut fenomena pembunuhan anak oleh orang tua kandung dikenal dalam psikologi sebagai filicide. 

“Kasus seperti ini tidak sekali terjadi di Indonesia. Namun saat terjadi di lingkungan kita, seperti di Samarinda, rasanya jauh lebih mengerikan karena terasa dekat,” ujar Ayunda saat dihubungi melalui telpon oleh wartawan Arusbawah.co, pada Selasa (29/7) sore.

Ayunda menjelaskan, faktor pemicu bisa bermacam-macam, seperti tekanan lingkungan, kepribadian, dan gangguan jiwa.

“Dari keterangan keluarga, WH mengalami stres karena sakit, kehilangan pekerjaan, dan cekcok rumah tangga. Semua itu bisa memicu akumulasi stres berat,” jelasnya.

Ketidakmatangan Usia Perkawinan Juga Jadi Faktor

Ayunda juga menyoroti faktor usia dan ketidakmatangan emosional.

“Bisa jadi peran suami sebagai pencari nafkah terganggu. Ketika identitas dan harga dirinya runtuh, konflik pun meningkat, dan tanpa kemampuan manajemen emosi yang baik, agresi bisa muncul,” ucap Ayunda.

Ayunda menekankan pentingnya memeriksa kondisi kejiwaan pelaku, termasuk kemungkinan pengaruh alkohol atau narkotika.

“Kalau memang pelaku mengalami gangguan psikologis berat, kemampuan mengenali realita bisa terganggu. Harusnya seseorang sadar bahwa itu anak kandungnya. Tapi kalau persepsinya sudah rusak, maka bisa terjadi tindakan di luar nalar,” katanya.

Pentingnya Deteksi Dini Masalah Mental dalam Keluarga

Ayunda mengimbau masyarakat lebih peka terhadap perubahan perilaku orang terdekat.

“Kalau tetangga dengar ada rumah tangga sering ribut, jangan diam. Peduli itu bukan ikut campur, tapi upaya menyelamatkan,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar masyarakat mau menggunakan layanan konseling yang kini bisa diakses gratis dan rahasia.

“Kita perlu membangun budaya waspada dan empati. Jangan tunggu sampai ada korban jiwa,” kata Ayunda.

Sebagai penutup, Ayunda menegaskan bahwa anak tidak seharusnya menjadi pelampiasan tekanan hidup orang tua.

“Anak-anak tidak berdosa. Mereka tidak tahu apa-apa. Kalau orang tua merasa tidak mampu mengatasi masalah, bicaralah, cari bantuan. Jangan simpan sendiri sampai meledak seperti ini,” pungkasnya.

(wan)

 

 

Tag

MORE