ARUSBAWAH.CO - Kalimantan Timur (Kaltim) menyimpan kekayaan bawah laut yang tak kalah dari kawasan tropis dunia.
Berdasarkan verifikasi terbaru Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi, luas terumbu karang di Kaltim kini tercatat sekitar 128 ribu hektare.
Data itu disampaikan Muchlis Effendi, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman (Unmul) saat ditemui redaksi Arusbawah.co di Samarinda beberapa hari lalu.
Menurutnya, angka tersebut meningkat signifikan dari pendataan sebelumnya yang hanya sekitar 76 ribu hektare.
“Ini bukan berarti karangnya tiba-tiba membaik drastis. Tapi karena eksplorasi dan verifikasi datanya diperluas,” ujarnya.
Kaltim sendiri merupakan bagian dari inisiatif global Coral Triangle Initiative (CTI), bersama Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste—kawasan dengan keanekaragaman terumbu karang tertinggi di dunia.
Kondisi Karang: Ada yang Prima, Ada yang Kritis
Secara umum, tutupan karang hidup di Kaltim berada pada kategori sedang (25–50 persen).
Namun kondisinya beragam.
Beberapa titik di Berau dan Kutai Timur memiliki tutupan di atas 75 persen.
Wilayah pesisir Balikpapan, perbatasan Kukar, hingga beberapa titik di Berau dan Pulau Miang masuk kategori kritis (<25 persen).
Dari Berau hingga Paser, karang tersebar merata.
Namun tidak semuanya masuk kawasan konservasi.
Di Kutai Kartanegara (Kukar), hanya sekitar 25 persen yang berada di kawasan perlindungan.
Sisanya berada di DLKP/DLKR, kawasan tangkap, bahkan wilayah migas.
“Artinya banyak yang rentan,” tegas Muchlis.
Muara Badak: 200 Meter Persegi Rusak, Nilainya Bisa Rp2,8 Miliar
Awal 2026, tim gabungan bersama Kompak dan Pokmaswas menemukan kerusakan karang di Muara Badak.
Menurut Muchlis, bentuknya “seperti lapangan bola, rata dan jelas batasnya”.
Luas kerusakan diperkirakan sekitar 200 meter persegi atau 0,012 hektare. Secara kasat mata kecil.
Namun jika dihitung dengan pendekatan valuasi ekonomi, nilainya tidak kecil.
Beberapa jurnal menyebut:
- Kerugian Rp11 juta per meter persegi (2011).
- Rp17 juta per meter persegi (2019).
Jika memakai referensi ilmiah tersebut, estimasi kerugian bisa mencapai sekitar Rp2,8 miliar.
Bekas cat merah ditemukan di lokasi.
Dugaan mengarah pada kapal tongkang batubara atau LCT pengangkut BBM.
Namun Muchlis menegaskan, akademisi tidak dalam posisi menunjuk pelaku.
“Kalau mau ditelusuri, setiap kapal pasti punya log data posisi dan koordinat. Secara teknologi, itu bisa dilacak,” katanya.
Fungsi Ekologi: Pangan dan Ekonomi
Terumbu karang adalah rumah bagi ikan.
- Tempat bertelur.
- Tempat ikan kecil berlindung dan tumbuh.
- Area berburu ikan besar.
Dampaknya langsung terasa ke nelayan.
“Kalau karang rusak, ikan berkurang. Ujungnya ekonomi pesisir ikut terdampak,” jelas Muchlis.
Ancaman Global: Suhu Naik dan Laut Makin Asam
Kenaikan suhu global sejak era industrialisasi memicu pencairan es dan perubahan salinitas laut.
Selain itu, fenomena asidifikasi laut membuat pH turun dari sekitar 8,5 menjadi 8,3 dan terus menurun.
“Perubahan kecil itu sangat berpengaruh pada pembentukan kerangka karang,” katanya.
Derawan dan Spesies Endemik Dunia
Kaltim bisa masuk kawasan CTI karena keanekaragaman spesiesnya.
Di perairan Derawan tercatat lebih dari 500 jenis karang.
Beberapa spesies unik yang ditemukan:
- Acropora suharsonoi, jenis karang cabang yang terkonfirmasi unik di Derawan.
- Dragonet mandarin fish derawaniensis, pertama kali diverifikasi di Derawan.
- Penelitian kini juga menggunakan metode DNA untuk memastikan identifikasi spesies.
Patch Reef Kukar: Bukit Karang di Tengah Laut
Tipikal karang Kukar disebut sebagai patch reef—seperti bukit di tengah laut.
Perairan bisa dalam 20 meter, lalu tiba-tiba muncul puncak karang setinggi 1–2 meter saat surut.
Dari Muara Badak hingga perbatasan Bontang–Marangkayu, ditemukan sekitar 75 spot karang. Namun belum semuanya diselam dan diverifikasi.
“Eksplorasi masih sangat perlu. Bisa jadi luasnya lebih besar dari data sekarang,” ujar Muchlis.
Rehabilitasi Butuh 5–10 Tahun
Pemulihan alami karang bisa memakan waktu 5–10 tahun jika kawasan ditutup dari aktivitas.
Dengan transplantasi atau terumbu buatan, hasil visual bisa terlihat dalam 5–7 tahun.
“Tapi tidak akan pernah sama persis seperti semula,” katanya.
Apa yang Harus Dilakukan?
Muchlis menekankan beberapa langkah penting:
- Tingkatkan kapasitas SDM penyelam dan peneliti.
- Perluas eksplorasi dan verifikasi.
- Perkuat kolaborasi perguruan tinggi, Pokmaswas, dan DKP.
- Dorong CSR swasta menyasar rehabilitasi laut, bukan hanya darat.
“Laut tidak bisa protes. Tapi ketika rusak, manusialah yang akan merasakannya,” tutupnya. (pra)




