Arus Publik

Taman Musik Tenggarong, Ruang Publik Baru yang Menyatukan Seni, Wisata, dan Warga Kukar

Rabu, 31 Desember 2025 11:1

PERESMIAN - Momentum peresmian taman juga dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Kukar untuk kembali menggaungkan Kalender Pariwisata Kukar/ IST

ARUSBAWAH.CO -  Malam itu, Selasa (30/12/2025), suasana Tenggarong terasa berbeda.

Di bawah langit malam ibu kota Kutai Kartanegara, alunan musik dan cahaya lampu menyertai peresmian Taman Musik Tenggarong, sebuah ruang publik baru yang diharapkan menjadi denyut segar bagi pariwisata dan kreativitas warga.

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri secara langsung meresmikan taman tersebut, disaksikan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, Sekretaris Daerah Kukar Sunggono, unsur Forkopimda, serta jajaran kepala perangkat daerah.

Namun malam itu bukan sekadar seremoni.

Ia menjadi penanda arah baru wajah Tenggarong sebagai kota yang memberi ruang bagi seni, budaya, dan pertemuan manusia.

Taman Musik Tenggarong dirancang bukan hanya sebagai taman, tetapi sebagai ruang ekspresi.

Di sinilah musik, pertunjukan seni, dan interaksi sosial bertemu.

Sebuah ruang terbuka yang bisa dinikmati siapa saja—dari musisi lokal hingga keluarga yang ingin bersantai di malam hari.

“Dengan adanya Taman Musik Tenggarong ini, kami berharap kunjungan wisata ke Tenggarong semakin meningkat,” ujar Aulia dalam sambutannya.

Baginya, dampak taman ini bukan hanya soal keindahan kota, tetapi juga tentang denyut ekonomi kecil yang hidup di sekitarnya.

UMKM, pedagang kaki lima, hingga pelaku ekonomi kreatif disebut akan menjadi pihak yang paling merasakan manfaat kehadiran ruang publik ini.

Ketika orang datang, berkumpul, dan menikmati pertunjukan, roda ekonomi pun ikut bergerak.

Momentum peresmian taman juga dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Kukar untuk kembali menggaungkan Kalender Pariwisata Kukar.

Ke depan, Taman Musik Tenggarong diproyeksikan menjadi salah satu panggung utama bagi berbagai agenda seni, budaya, dan hiburan yang digelar rutin sepanjang tahun.

Dengan jadwal event yang terencana, Tenggarong diharapkan tak hanya ramai pada momen tertentu, tetapi hidup secara berkelanjutan sebagai destinasi wisata.

Baik wisatawan lokal maupun luar daerah diharapkan datang bukan karena kebetulan, melainkan karena ada alasan untuk kembali.

Di balik itu semua, pembangunan Taman Musik Tenggarong menyimpan visi yang lebih panjang. Pemerintah daerah ingin memperkaya pilihan destinasi wisata sekaligus mengubah wajah pembangunan Kukar yang selama ini lekat dengan industri ekstraktif.

Tak hanya darat, Kukar juga mulai menoleh ke sungai. Sungai Mahakam dan jalur perairan lainnya kini dilirik sebagai bagian dari pengalaman wisata terintegrasi—menghidupkan kembali identitas Kukar sebagai wilayah peradaban sungai.

“Kita ingin menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda,” kata Aulia.

Sebuah pengalaman yang tidak hanya dilihat, tetapi dirasakan.

Lebih jauh, Aulia menegaskan bahwa penguatan sektor pariwisata, seni budaya, dan ekonomi kreatif merupakan strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Kukar pada tambang batu bara.

Sektor-sektor ini diyakini mampu membuka sumber ekonomi baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Peresmian Taman Musik Tenggarong pun menjadi simbol bahwa pembangunan bukan hanya tentang beton dan jalan, tetapi juga tentang ruang berkumpul, cerita, dan identitas.

“Seni dan budaya tradisional masyarakat Kutai khususnya bisa diekspos di taman ini,” tutup Aulia.

Di tengah riuh musik dan lampu malam itu, Taman Musik Tenggarong lahir sebagai ruang harapan—tempat di mana kota, budaya, dan warganya bertemu. (red)

 

Tag

MORE