Arus Publik

"Taman Budaya Tidak Mewakili Budaya", Seniman Protes Gedung Hanya Jadi Tempat Nikahan, Ini Jawaban Sekda Kaltim

Harkitnas: Seniman Kaltim bawa aspirasi ke Pemprov

Rabu, 20 Mei 2026 22:58

Sekda Kaltim Sri Wahyuni bersama Awang Irwan Setiawan saat dialog seniman di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu (20/5)/Foto: Arsubawah

Sejarah Budaya dan Adab Protokoler Pemerintah

Lebih lanjut, Awang Irwan mengingatkan pentingnya menjaga identitas sejarah Kutai yang bersifat terbuka bagi berbagai suku, seperti Jawa, Banjar, dan Bugis. 

Namun, ia menilai banyak agenda keprotokolan pemerintah saat ini yang kurang memperhatikan pakem adab kesultanan atau adat lokal.

"Banyak acara protokol pemerintah itu salah adanya (adabnya). Banyak acara kesultanan dihadiri, tapi kami para pegiat seni budaya tidak pernah diajak komunikasi atau duduk bersama. Sekarang anak-anak muda tidak mengerti apa-apa. Tolong kami diajak diskusi," jelasnya.

Ia juga mencontohkan kawasan bersejarah seperti Kutai Lama yang kini dirasa semakin tenggelam dan kurang mendapat perhatian dalam menonjolkan ikon-ikon khas Kalimantan Timur pada pembangunan fisik daerah.

Pemerintah Janji Evaluasi Aset Daerah

Merespons seluruh aspirasi tersebut, Sekda Kaltim Sri Wahyuni menegaskan bahwa masukan dari para penggiat seni menjadi koreksi penting bagi pemerintah provinsi dalam menjalankan pembinaan kebudayaan dan pariwisata.

Sri Wahyuni mengakui adanya tantangan terkait penggunaan fasilitas publik yang sering dialihkan untuk kegiatan komersial seperti resepsi pernikahan demi mengejar target Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Ini suara dari para seniman bagaimana Taman Budaya, namanya Taman Budaya ya dibangun sebagai tempat berkumpulnya pelaku budaya. Memang PAD-nya dapat, tetapi kita jadi tidak memfungsikan secara optimal," ujar Sri Wahyuni dihadapan Armin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Tag

MORE