ARUSBAWAH.CO - Dugaan siapa di balik upaya penyuapan terhadap Jenderal Lapangan Aliansi Rakyat Kaltim (ARK), Fathur Rahman, yang terjadi menjelang Aksi 214 lalu, kini memasuki babak baru.
Setelah sebelumnya Fathur blak-blakan soal adanya "uang titipan" Rp50 juta agar dirinya mundur dari komando aksi, kini giliran Tim Ahli Gubernur Kalimantan Timur (TAG) yang mendadak angkat bicara.
Namun, alih-alih meredam suasana, pernyataan dari pihak pemerintah ini justru memicu aksi saling sindir yang makin tajam di ruang publik.
Pernyataan Sudarno: "Bukan dari Tim Kami, Itu Remeh"
Sudarno, salah satu anggota Tim Alih Gubernur (TAG), merespons kabar penyuapan tersebut melalui akun Instagram pribadinya (@sudarno_se) pada Rabu, 20 Mei 2026.
Dalam pernyataannya, Sudarno secara tegas membantah bahwa uang Rp50 juta itu berasal dari lingkaran internal Gubernur Rudi Mas’ud.
Menariknya, dalam klasifikasi tersebut, Sudarno sempat melontarkan kalimat yang kini menjadi sorotan.
Ia menyebut bahwa nominal Rp50 juta untuk menyogok seorang jenderal lapangan adalah angka yang tergolong kecil atau "receh" bagi pihak tertentu, mengingat risiko posisi seorang pemimpin pergerakan.
"Aku pastikan bahwa itu bukan dari tim kami, bukan dari tim Pak Gubernur yang mau nyogok kalian Rp50 juta. Kok remeh-remeh sekali begitu ya," ujar Sudarno dalam unggahan videonya.
Lebih lanjut, Sudarno yang juga merupakan aktivis angkatan '98 menilai bahwa upaya sogok-menyogok dalam dinamika aksi massa adalah hal yang lumrah dan sudah menjadi resiko jabatan pimpinan aksi.
Ia pun mengajak mahasiswa untuk lebih memikirkan stabilitas daerah dan nasib investasi demi mencegah pengangguran yang lebih luas di Kaltim, sembari menutup dengan pesan agar mahasiswa tetap menjaga kewarasan.
Tag



