Arus Publik

Sofyan Jufri Kenang Masa Sulit Kuliah Hukum, Pernah Bertahan Hidup dengan Minum Air Galon

Cerita masa kuliah Sofyan Jufri

BERBINCANG - Anggota DPRD Balikpapan Sofyan Jufri bagikan kisah perjuangannya saat menempuh kuliah hukum/Foto: Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO - "Memang kalau waktu kuliah sulit banget. Aku pernah satu hari itu air galon saja yang ngisi perutku." 

Anggota DPRD Balikpapan Sofyan Jufri mengenang masa-masa sulit saat menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Mulawarman

Kepada Arusbawah.co Rabu (15/07/2026) lalu, ia menceritakan pernah bertahan hidup hanya dengan meminum air galon karena tak memiliki uang untuk membeli makanan.

Jauh sebelum dikenal sebagai wakil rakyat, Sofyan merupakan mahasiswa yang harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari karena kesulitan ekonomi.

Ia mengaku pernah bertahan hidup hanya dengan meminum air galon karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

Kondisi tersebut sempat membuat fisiknya melemah.

Saat mengendarai motor mencari teman untuk meminjam uang Rp5 ribu, ia justru terjatuh karena tubuhnya sudah tak kuat akibat belum makan.

Tak hanya itu, menjelang kelulusan, Sofyan kesulitan membayar biaya yudisium.

Saat itu ia hanya memiliki uang Rp20 ribu, sementara biaya yang harus dibayarkan mencapai sekitar Rp260 ribu.

Ia kemudian memberanikan diri menemui Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Mulawarman untuk meminta solusi.

"Aku bilang, 'Pak, kalau memang wajib, saya merampok dulu ya Pak, karena uang saya cuma Rp20 ribu'," ujarnya.

Ucapan itu membuat pihak kampus terkejut.

Alih-alih memarahinya, dosen justru membantu menutupi kekurangan biaya yudisium hingga akhirnya Sofyan dapat menyelesaikan pendidikannya.

Pernah Jadi Pembersih Kos Demi Bertahan Kuliah

Perjuangan Sofyan tidak berhenti di situ.

Selama kuliah ia juga bekerja sebagai pembantu kos dengan tugas membersihkan kamar mandi dan kloset demi mendapatkan penghasilan.

Pekerjaan itu memberinya upah sekitar Rp75 ribu setiap bulan, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama menjadi mahasiswa.

Ia baru berhenti bekerja ketika harus mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Meski hidup serba kekurangan, Sofyan mengaku keputusan mengambil jurusan hukum merupakan pilihannya sendiri.

Awalnya ia diterima di jurusan Perikanan melalui jalur seleksi nasional, tetapi kemudian memilih masuk Fakultas Hukum karena ingin menjadi sarjana hukum.

Menurutnya, kedua orang tuanya tidak pernah memaksakan pilihan pendidikan.

Mereka selalu mendukung keputusan yang diambil, termasuk ketika ia aktif di organisasi kemahasiswaan.

Tak Lupa Berasal dari Kalangan Bawah

Pengalaman hidup dalam keterbatasan membuat Sofyan mengaku tidak ingin berubah setelah menjadi anggota DPRD Balikpapan.

Ia menyebut jabatan bukan alasan untuk menjaga jarak dengan masyarakat maupun pegawai di lingkungan DPRD.

Sesaat setelah dilantik menjadi anggota dewan, Sofyan memilih berkenalan lebih dulu dengan sopir, petugas kebersihan, petugas keamanan, hingga staf sekretariat DPRD.

Ia juga mengaku lebih sering menghabiskan waktu di kantin bersama para pegawai nonstruktural dibanding berada di ruang eksklusif.

Menurut Sofyan, obrolan bersama mereka justru memberinya banyak masukan yang jujur mengenai persoalan masyarakat tanpa muatan politik.

"Kalau ada kritik, itu murni dari apa yang mereka alami. Dari situ aku banyak belajar dan membawa masukan itu ke ruang-ruang rapat," katanya.

Perjalanan hidup Sofyan Juhri menjadi gambaran bahwa pendidikan tinggi tak selalu ditempuh dalam kondisi yang mudah.

Dari mahasiswa yang pernah bertahan hidup dengan air galon, bekerja membersihkan kos, hingga kini dipercaya menjadi anggota DPRD Balikpapan, ia mengaku memilih tetap hidup sederhana dan menjaga kedekatan dengan masyarakat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. (sobizz/sal)

Tag

MORE