"Aku bilang, 'Pak, kalau memang wajib, saya merampok dulu ya Pak, karena uang saya cuma Rp20 ribu'," ujarnya.
Ucapan itu membuat pihak kampus terkejut.
Alih-alih memarahinya, dosen justru membantu menutupi kekurangan biaya yudisium hingga akhirnya Sofyan dapat menyelesaikan pendidikannya.
Pernah Jadi Pembersih Kos Demi Bertahan Kuliah
Perjuangan Sofyan tidak berhenti di situ.
Selama kuliah ia juga bekerja sebagai pembantu kos dengan tugas membersihkan kamar mandi dan kloset demi mendapatkan penghasilan.
Pekerjaan itu memberinya upah sekitar Rp75 ribu setiap bulan, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama menjadi mahasiswa.
Ia baru berhenti bekerja ketika harus mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Meski hidup serba kekurangan, Sofyan mengaku keputusan mengambil jurusan hukum merupakan pilihannya sendiri.
Awalnya ia diterima di jurusan Perikanan melalui jalur seleksi nasional, tetapi kemudian memilih masuk Fakultas Hukum karena ingin menjadi sarjana hukum.
Menurutnya, kedua orang tuanya tidak pernah memaksakan pilihan pendidikan.
Tag



