Ia mengakui, kondisi di AWS memang padat karena menjadi rumah sakit rujukan utama.
“Setiap hari antrean IGD bisa sampai tujuh sampai delapan pasien. Kadang yang di dalam belum keluar, jadi yang baru datang harus menunggu,” ucapnya.
Arysia juga menjelaskan bahwa AWS menggunakan sistem Sisranap dari Kementerian Kesehatan untuk memantau ketersediaan tempat tidur.
Informasi itu bisa dilihat langsung di layar IGD.
“Di layar itu ada data realtime. Kalau kosong satu, misalnya untuk pasien perempuan, ya pasien laki-laki enggak bisa masuk. Ada klasifikasi berdasarkan jenis kelamin dan penyakit. Jadi enggak bisa asal isi,” jelasnya.
Ia menegaskan, sebagian ruang perawatan memang sedang dalam tahap perbaikan karena kerusakan fasilitas seperti AC dan plafon bocor.
“Wajar kalau ada ruang yang sementara tidak bisa digunakan. Tapi bukan berarti ditutup-tutupi,” katanya.
Namun, ketika ditanya soal keluhan masyarakat dan rencana audit Pemprov, Arysia menolak berkomentar lebih jauh.
“Saya sudah konsultasi ke direktur, kami enggak boleh komentar banyak. Yang jelas, semua rumah sakit pasti padat, apalagi AWS sebagai rujukan utama,” ucapnya singkat.
Meski begitu, ia membuka kesempatan bagi media dan publik untuk melihat langsung kondisi di lapangan.
“Kalau mau objektif, ayo lihat langsung di IGD. Lihat bagaimana antreannya, sistemnya seperti apa. Biar jelas,” tutupnya.
(wan)
- Kubar dan Mahulu Kekurangan Dokter Spesialis, Gaji Rp70 Juta pun Masih Sulit Menarik Minat
- Rp193,4 Miliar Alat Kesehatan RSUD Kanujoso, Pengadaan Langsung oleh Dinkes Kaltim Bukan Rumah Sakit
- Tahun 2025 RSUD Kanujoso Djatiwibowo Dapat Rp193,4 Miliar untuk Alat Kesehatan, Ini Daftar Perusahaan Pelaksana Pengadaan Alkes 2024
Tag




