Sebelum diterima di Sekolah Rakyat, ia sempat bekerja sebagai pelayan di sebuah vila untuk membantu kebutuhan keluarganya.
“Sekarang libur dulu karena mau masuk sekolah. Nanti tinggal di asrama, semuanya sendiri. Tapi orang tua setuju,” ujarnya.
Terkait fasilitas di asrama Sekolah Rakyat, Randi mengatakan sudah menerima penjelasan dari Dinas Sosial dan mengaku tidak sabar segera bersekolah di Sekolah Rakyat.
“Katanya makan ditanggung, seragam juga, tinggal di asrama dapat iPad, sepatu, sama pakaian sehari-hari. Jadi bisa lebih mandiri,” ujarnya.
“Saya belum tahu seperti apa sekolahnya, tapi saya siap. Ini kesempatan buat saya mandiri. Semua fasilitas katanya disiapkan, tinggal di asrama, makan dan baju juga ditanggung,” tambah Randi.
Sekolah Rakyat Siapkan Pola Pembinaan dan Perlindungan Anak dari Kekerasan
Kepala Sekolah Rakyat Samarinda, Hasyim, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan para siswa akan dijadikan dasar untuk pemetaan kondisi fisik dan perencanaan pembinaan selama di asrama.
“Karena mereka tinggal di asrama dan mengikuti pola hidup yang sama, data kesehatan sangat penting. Kami ingin tahu kondisi fisik mereka, riwayat penyakit, hingga tingkat kebugaran. Semua ini akan dikombinasikan dengan tes karakter dan talent DNA nanti,” jelas Hasyim.
Hasyim menambahkan, selama MPLS, para siswa akan dikenalkan dengan berbagai kegiatan pembinaan karakter.
Mulai dari baris-berbaris, pembinaan kerohanian, hingga pelatihan mental dan kebiasaan hidup disiplin.
“Kami ingin mereka terbiasa hidup mandiri, saling menghargai, dan tidak ada yang merasa lebih tinggi atau rendah. Tidak boleh ada bullying, kekerasan fisik, kekerasan seksual, maupun intoleransi,” tegasnya.
“Anak-anak ini harus dimuliakan. Mereka berhak merasakan kesetaraan dalam pendidikan. Ini bukan hanya soal sekolah, tapi soal bagaimana kita memanusiakan mereka,” pungkasnya.
(wan)
Tag




