ARUSBAWAH.CO - Sebanyak 100 calon siswa Sekolah Rakyat di Samarinda, terdiri dari 50 siswa jenjang SMP dan 50 siswa jenjang SMA, mengikuti tes kesehatan dan kesemaptaan di GOR Segiri, Samarinda, pada Senin (14/7/2025).
Tes itu menjadi langkah awal sebelum mereka resmi menjalani proses belajar mengajar berbasis asrama di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalimantan Timur, yang dijadwalkan dimulai pada 1 Agustus 2025.
Sejak pagi, para siswa datang didampingi orang tua mereka.
Mereka mengenakan pakaian olahraga lengkap dengan sepatu, siap mengikuti rangkaian pemeriksaan kesehatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 12.00 WITA.
Tes yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan kondisi mata, gigi, golongan darah, status gizi, hingga kesemaptaan jasmani.
Cek kesehatan itu difasilitasi oleh lima puskesmas yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Samarinda.
Kisah Hajrah: Penjual Kue Basah dari Tanah Merah yang Berjuang Sekolahkan Anak di Sekolah Rakyat
Di balik antusiasme pelaksanaan tes kesehatan, terselip kisah haru dari para orang tua dan calon siswa program yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Salah satunya adalah Hajrah, seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari berjualan kue basah di kawasan Serayu, Kelurahan Tanah Merah.
Ia tampak mendampingi putranya yang akan masuk jenjang SMA di Sekolah Rakyat.
Putranya bernama Gusti Ahmad Raihan, merupakan lulusan MTs An-Nur Rimbawan dan termasuk satu dari 50 calon siswa SMA yang menjalani tes kesehatan dan kesemaptaan.
Suami Hajrah bekerja sebagai tukang potong rumput di kebun desa, dengan penghasilan di bawah Rp2 juta per bulan.
Hajrah mengetahui informasi mengenai Program Sekolah Rakyat dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
“Saya tanya lewat WA, ‘Apa itu SR?’ Lalu dijelaskan itu sekolah asrama. Saya tanya ke anak saya, ternyata dia mau,” ungkap Hajrah.
Ia mengaku bersyukur karena hampir seluruh kebutuhan anaknya akan ditanggung oleh Sekolah Rakyat.
“Kata pendamping PKH, semua disiapkan. Dari seragam, makan tiga kali sehari, sampai celana dalam katanya ditanggung. Saya sampai kaget. Alhamdulillah, anak saya juga senang,” ucapnya.
Meski tinggal cukup jauh di Tanah Merah, Hajrah tetap akan terus menjenguk anaknya secara berkala, minimal sebulan sekali.
“Kalau tiap minggu tentu berat di ongkos. Tapi kalau sebulan atau dua bulan sekali saya sempatkan, insya Allah,” ujarnya.
Menurut Hajrah, yang paling penting baginya adalah memastikan tidak adanya kekerasan fisik di lingkungan sekolah.
“Yang penting enggak ada kekerasan fisik. Kemarin saat wawancara di Dinsos, saya sampaikan itu. Mereka bilang enggak akan ada. Saya percaya karena ini program baru, belum ada senior-junior yang biasa jadi sumber masalah,” tambahnya.
“Semoga berjalan baik, enggak ada ketimpangan. Masuknya baik, keluarnya juga baik. Anak-anak lebih sukses,” ucapnya.

Randi: Anak Yatim Lulusan SMP Negeri yang Siap Mandiri Lewat Sekolah Rakyat Samarinda
Sementara itu, Muhammad Randi Arsil (15), salah satu calon siswa SMA Sekolah Rakyat lainnya, juga membagikan kisahnya.
Ia tinggal di Bayur, Kelurahan Sempaja Utara, bersama ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Ayahnya telah meninggal dunia.
“Saya tahu ada nama saya di daftar PIP (Program Indonesia Pintar), dari Dinsos. Lalu dia kasih tahu soal Sekolah Rakyat ini,” kata Randi.
Randi adalah lulusan SMP Negeri 47 Samarinda.
Sebelum diterima di Sekolah Rakyat, ia sempat bekerja sebagai pelayan di sebuah vila untuk membantu kebutuhan keluarganya.
“Sekarang libur dulu karena mau masuk sekolah. Nanti tinggal di asrama, semuanya sendiri. Tapi orang tua setuju,” ujarnya.
Terkait fasilitas di asrama Sekolah Rakyat, Randi mengatakan sudah menerima penjelasan dari Dinas Sosial dan mengaku tidak sabar segera bersekolah di Sekolah Rakyat.
“Katanya makan ditanggung, seragam juga, tinggal di asrama dapat iPad, sepatu, sama pakaian sehari-hari. Jadi bisa lebih mandiri,” ujarnya.
“Saya belum tahu seperti apa sekolahnya, tapi saya siap. Ini kesempatan buat saya mandiri. Semua fasilitas katanya disiapkan, tinggal di asrama, makan dan baju juga ditanggung,” tambah Randi.
Sekolah Rakyat Siapkan Pola Pembinaan dan Perlindungan Anak dari Kekerasan
Kepala Sekolah Rakyat Samarinda, Hasyim, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan para siswa akan dijadikan dasar untuk pemetaan kondisi fisik dan perencanaan pembinaan selama di asrama.
“Karena mereka tinggal di asrama dan mengikuti pola hidup yang sama, data kesehatan sangat penting. Kami ingin tahu kondisi fisik mereka, riwayat penyakit, hingga tingkat kebugaran. Semua ini akan dikombinasikan dengan tes karakter dan talent DNA nanti,” jelas Hasyim.
Hasyim menambahkan, selama MPLS, para siswa akan dikenalkan dengan berbagai kegiatan pembinaan karakter.
Mulai dari baris-berbaris, pembinaan kerohanian, hingga pelatihan mental dan kebiasaan hidup disiplin.
“Kami ingin mereka terbiasa hidup mandiri, saling menghargai, dan tidak ada yang merasa lebih tinggi atau rendah. Tidak boleh ada bullying, kekerasan fisik, kekerasan seksual, maupun intoleransi,” tegasnya.
“Anak-anak ini harus dimuliakan. Mereka berhak merasakan kesetaraan dalam pendidikan. Ini bukan hanya soal sekolah, tapi soal bagaimana kita memanusiakan mereka,” pungkasnya.
(wan)




