Ia mengaku bersyukur karena hampir seluruh kebutuhan anaknya akan ditanggung oleh Sekolah Rakyat.
“Kata pendamping PKH, semua disiapkan. Dari seragam, makan tiga kali sehari, sampai celana dalam katanya ditanggung. Saya sampai kaget. Alhamdulillah, anak saya juga senang,” ucapnya.
Meski tinggal cukup jauh di Tanah Merah, Hajrah tetap akan terus menjenguk anaknya secara berkala, minimal sebulan sekali.
“Kalau tiap minggu tentu berat di ongkos. Tapi kalau sebulan atau dua bulan sekali saya sempatkan, insya Allah,” ujarnya.
Menurut Hajrah, yang paling penting baginya adalah memastikan tidak adanya kekerasan fisik di lingkungan sekolah.
“Yang penting enggak ada kekerasan fisik. Kemarin saat wawancara di Dinsos, saya sampaikan itu. Mereka bilang enggak akan ada. Saya percaya karena ini program baru, belum ada senior-junior yang biasa jadi sumber masalah,” tambahnya.
“Semoga berjalan baik, enggak ada ketimpangan. Masuknya baik, keluarnya juga baik. Anak-anak lebih sukses,” ucapnya.

Randi: Anak Yatim Lulusan SMP Negeri yang Siap Mandiri Lewat Sekolah Rakyat Samarinda
Sementara itu, Muhammad Randi Arsil (15), salah satu calon siswa SMA Sekolah Rakyat lainnya, juga membagikan kisahnya.
Ia tinggal di Bayur, Kelurahan Sempaja Utara, bersama ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Ayahnya telah meninggal dunia.
“Saya tahu ada nama saya di daftar PIP (Program Indonesia Pintar), dari Dinsos. Lalu dia kasih tahu soal Sekolah Rakyat ini,” kata Randi.
Randi adalah lulusan SMP Negeri 47 Samarinda.
Tag



